9 Macam Dan Jenis Roh Pada Manusia Serta Fungsinya


 
Roh adalah bagian dari tubuh kita yang tidak dapat dihindari keberadaanya bahkan Allah SWt pun berfirman pada "surat Al-isra'17 ayat 85 yang artinya dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. katakanlah roh itu termasuk urusanku. dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" dengan pengetahuan ini yang telah dilakuakan pengkajian dari dahulu secara sangat sangat mendalam oleh nenek moyang kita ternyata memang tubuh manusia itu terdiri dari 9 jenis roh dan mereka memiliki fungsi dan tugas nya masing masing berikut 9 Macam Roh Pada Manusia Serta Fungsinya :
Macam Dan Jenis Roh Pada Manusia Serta Fungsinya - munsypedia.blogspot.com

1. Roh idhofi atau dalam bahasa kejawen sering disebut dengan roh ilafi/ilofi : 
Alam tinggal roh idhofi ini adalah nur (cahaya) yang terang benderang dan sangat sejuk. roh idhofi adalah roh central atau pusat dalam tubuh manusia roh ini yang memiliki peranan paling besar/penting dan roh inilay yang memerintah dari ke 8 roh lainya makadari itu roh idhofi diberi julukan "johar awal suci" roh inilah yang membuat manusia hidup. roh idhofi adalah roh sumber dari 8 roh lainya bila mana roh idhofi ini keluar dari raga manusia maka dapat dipastikan roh yang ke 8 akan ikut serta keluar dari raga dan kejadian inilah yang disebut Kematian maka dari itu roh idhofi disebut "Nyawa" namun bila kebalikanya yaitu ke 8 roh keluar dari tubuh kita namun 1 roh(Idhofi) tetap tinggal dalam raga dapat dipastikan manusia masih bisa hidup namun pasti saja memiliki kekurangan dikarenakan 8 fungshi yang mengatur tubuh kita hilang. 'bagi seseorang yang mempunyai tingkat ilmu kebatinan tinggi dapat menjumpai wujud dari roh idhofi ini. wujud dari roh idhofi tidak jauh berbeda dengan tubuh kita dari rupa, suara, tingkah dan segala sesuatunya persis seperti wujud kita sendiri yang memiliki (tidak ada yang berbeda) sifat inilah yang membedakan roh idhofi berbeda dengan roh lainya

2. Roh Rabbani : Alam tinggal roh ini dalam nur (cahaya) berwarna kuning diam tak bergerak. 
Sifat roh rabbani ini tidak mempunyai kehendak apa apa. memiliki ketentraman hati. dan tubuh tidak merasakan apa apa. karena roh ini tidak memiliki hawa nafsu maka roh ini sering dipergunakan para kaum supranaturalis sebagai titik acuan dalam semedi / bertapa. untuk mencapai ketenangan dan penyatuan dengan alam

3. Roh Rohani : roh ini yang mengendalikan hawa nafsu manusia. 
Roh ini mimiliki 2 sisi kehendak yang berbeda. roh yang membuat kita sering merasakan kadang menyukai sesuatu hal. dan kadang tidak menyukai hal tersebut (membenci). roh ini pun yang memiliki pengaruh akan perbuatan baik dan buruk roh ini pun menemoati 4 jenis nafsu yaitu 1. Nafsu luwama (aluamah) 2.Nafsu Amarah 3.Nafsu Supiyah 4.Nafsu mulamah (mutmainah). jika roh ini meninggalkan tubuh manusia maka manusia makan manusia tidak akan mempunyai nafsu lagi. bilamana manusia mampu menguasai roh ini maka ia akan hidup dalam keilmuan. roh ini memiliki sifat mengikuti penglihatan. apa yang kita pandang apa yang kita lihat disitulah roh rohani berada. untuk melihat / menjumpai roh ini kita akan menjumpai terlebih dahulu melihat macam macam nur (cahaya) seperti kunang kunang. setelah cahaya tersebut hilang barulah kita dapat menjumpai roh ini

Macam Dan Jenis Roh Pada Manusia Serta Fungsinya - munsypedia.blogspot.com 
4. Roh Nurani : roh ini membawa sifat terang. 
Karena roh inilah manusia bisa merasakan suatu petunjuk yang menuntun dan keterangan dalam hati & pikiran. bilamana roh nurani meninggalkan tubuh maka orang tersebut akan merasakan gelap nya hati dan pikiran. Roh Nurani menguasai nafsu mutmainah yang menonjol yang dapat mengalahkan nafsu lainya sehingga membawa kebaikan yang terjaga. hati terasa tentram, prilaku baik dan terpuji, air muka pun akan terlihat bersinar (bercahaya) tidak banyak berbicara, tidak ragu dalam mengambil keputusan, serta tidak mengeluh jika ditimpa kesusahan/musibah. bagi yang bisa menguasai roh ini semua perkara, suka, duka akan dipandang sama rata

5. Roh kudus : biasa dikenal dengan sebutan roh suci
Roh ini membawa pengaruh sifat welas asih pada semua makhluk. tidak segan memberi pertolongan dan berbuat kebajikan serta mempengaruhi perbuatan amal ibadah sesuai agama dan kepercayaan yang dianutnya

6. Roh Rahmani : Roh diberi nama yang mengambil dari kata "Rahman" yang artinya pemurah
Karena roh ini memiliki sifat pemurah suka memberi dan bersifat sosialitas

7. Roh Jasmani : pemahaman sifat kerja roh ini sering diterapkan dalam ilmu pengobatan dikarenakan roh inilah yang mengatur seluruh sistem peredaran darah, urat syaraf pada manusia. 
Karena roh inilah kita memiliki rasa sakit, cape, segar, roh inipun memiliki nafsu amarah dan nafsu hewani nafsu inilah yang membuat kita malas, menyuakai hubungan badan, serakah, dan ingin dimengerti sendiri. salah satu tantangan seseorang mempelajari ilmu kebatinan untuk mencapai taraf supranatural yang paling utama adalah menundukan sifat roh jasmani ini dalam tubuh. karena tanpa terlebih dahulu menundukan sifat roh ini maka tidak akan mampu menguasai ilmu kebatinan tingkat tinggi yang selalu terhalang ileh rasa sakit malas dan sebagainya

8. Roh Nabati : roh ini yang mengendalikan perkembangan pertumbuhan pada tubuh

9. Roh Rewani : roh inilah yang menjaga tubuh kita. bila roh ini keluar dari tubuh maka kita akan tertidur. 
Dan apa bila roh ini kembali dari tubuh maka kita akan kembali terbangun. jika seseorang tertidur bermimpi dengan arwah seseorang. maka roh rewani dari orang yang bermimpilah yang menjumpainya. jadi mimpi tersebut adalah hasil kerja roh rewani yang mengendalikan otak manusia. pergi dan keluarnya roh rewani pun yang diatur oleh roh idhofi. begitupun degan roh yang lainya masih tetap dalam kekuasaan roh idhofi.



DOA KUMAYL DENGAN TERJEMAHANNYA

Doa Kumayl

Teks Do’a Kumayl dan Terjemah Bahasa Indonesia

Kumayl bin Ziyad
Kumayl bin Ziyad Nakha’i adalah sahabat pilihan Imam Ali AS. Ketika Imam Ali AS memerintah, (35-40H), Kumayl dlantik menjadi wali kota Hait. Ia akhirnya menemui kesyahidannya pada tahun 83 hijrah dalam usia 90 tahun atas perintah penguasa zalim, Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi. Kumayl dimakamkan di suatu tempat bernama Tsaubah, yang terletak di antara Najaf al-Asyraf dan Kufah, di Iraq.
Doa Kumayl ini telah diajarkan oleh Imam Ali AS kepada Kumayl RA. Menurut Sayyid Ibn Thawwus dalam kitab Iqbal,riwayat ini disampaikan oleh Kumayl:” Pada suatu hari, saya duduk di masjid Basrah bersama Maulana Amirul Mu’minin Ali AS membicarakan hal Nisfu Sya’ban. Ketika ditanya tentang ayat,” Fiha yufraqu kullu amrin hakim,” (Surah al-Dukhaan:4), Imam Ali AS mengatakan bahawa ayat ini mengenai Nisfu Sya’ban; orang yang beribadat di malam itu, tidak tidur, dan membaca Doa Hadrat Hidhir AS akan diterima doanya.”
“Ketika Imam Ali pulang ke rumahnya, di malam itu, saya menyusulinya. Melihat saya, Imam AS bertanya,” Apakah keperluan anda ke mari?” Jawab saya, ” Saya ke sini untuk mendapatkan Doa Hadrat Hidhr.” Imam mempersilakan saya duduk, seraya mengatakan,” Ya Kumayl, apabila anda menghafal doa ini dan membacanya setiap malam Juma’at,cukuplah itu untuk melepaskan anda dari kejahatan, ada akan ditolong Allah, diberi rezeki, dan doa ini akan dimakbulkan. Ya Kumayl, lamanya persahabatan serta perkhidmatan anda, menyebabkan anda dikurniai nikmat dan kemuliaan untuk belajar (doa ini).”
Untuk mendownload doa kumail dalam bentuk mp3, silahkan » klik disini

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

اَللّهُمَّ اِنّى اَسْئَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتى وَسِعَتْ كُلَّ شَىْءٍ وَ بِقُوَّتِكَ الَّتى قَهَرْتَ بِها كُلَّ شَىْءٍ

Ya Allah, aku memohon demi rahmat-Mu yang mencakup segala sesuatu; dan demi kekuatan-Mu yang menundukkan segalanya;

وَ خَضَعَ لَها كُلُّ شَىْءٍ وَ ذَلَّ لَها كُلُّ شَىْءٍ وَ بِجَبَرُوتِكَ الَّتى غَلَبْتَ بِها

dan segalanya tunduk dan hina di hadapannya (kekuatan-Mu); dan dengan jabarut-Mu yang mana Engkau memenangkan

كُلَّ شَىْءٍ وَ بِعِزَّتِكَ الَّتى لا يَقُومُ لَها شَىْءٌ وَ بِعَظَمَتِكَ الَّتى مَلاَتْ كُلَّ

segala sesuatu dengannya; dan dengan kemuliaan-Mu yang mana tidak ada satupun yang bisa berdiri menandinginya; dan dengan keagungan-Mu yang telah memenuhi segala sesuati;

شَىْءٍ وَ بِسُلْطانِكَ الَّذى عَلا كُلَّشَىْءٍ وَ بِوَجْهِكَ الْباقى بَعْدَ فَناَّءِ

dan dengan kekuasaan-Mu yang lebih tinggi dari segala sesuatu; dan demi wajah-Mu yang kekal setelah fananya

كُلِّ شَىْءٍ وَ بِأَسْمائِكَ الَّتى مَلاَتْ اَرْكانَ كُلِّشَىْءٍ وَ بِعِلْمِكَ الَّذى اَحاطَ

segala sesuatu; dan dengan nama-nama-Mu yang telah memenuhi rukun segala sesuatu (menjadi pondasi dan asas segala sesuatu); dan dengan ilmu-Mu yang meliputi

بِكُلِّ شَىْءٍ وَ بِنُورِ وَجْهِكَ الَّذى اَضاَّءَ لَهُ كُلُّشىْءٍ يا نُورُ يا قُدُّوسُ يا

segala sesuatu; dan dengan cahaya wajah-Mu yang karenanya segala sesuatu tersinari. Wahai Cahaya, wahai Yang Maha Suci, wahai

اَوَّلَ الاْوَّلِينَ وَ يا اخِرَ الاْ خِرينَ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِىَ الذُّنُوبَ الَّتى تَهْتِكُ

dzat Yang Lebih Awal dari segala yang awal, dan Lebih Akhir dari segala yang akhir. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah mengoyak

الْعِصَمَ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِىَ الذُّنُوبَ الَّتى تُنْزِلُ النِّقَمَ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِىَ

tirai penjaga. Ya Allah ampunilah dosa-dosaku yang telah menurunkan amarah-Mu. Ya Allah, ampunilah

الذُّنُوبَ الَّتى تُغَيِّرُ النِّعَمَ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لىَ الذُّنُوبَ الَّتى تَحْبِسُ

dosa-dosaku yang telah merubah nikmat-nikmat. Ampunilah dosa-dosakuyang telah menghalangi

الدُّعاَّءَ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِىَ الذُّنُوبَ الَّتى تُنْزِلُ الْبَلاَّءَ اَللّهُمَّ اغْفِرْلى

naiknya doa (kepada-Mu). Ya Allah ampunilah dosa-dosaku yang telah menurunkan bencana. Ya Allah ampunilah

كُلَّ ذَنْبٍ اَذْنَبْتُهُ وَ كُلَّ خَطَّيئَةٍ اَخْطَاْتُها اَللّهُمَّ اِنّى اَتَقَرَّبُ اِلَيْكَ

segala dosa yang telah aku kerjakan dan segala kesalahan yang telah daku lakukan. Ya Allah, sungguh aku mendekatkan diri pada-Mu

بِذِكْرِكَ وَ اَسْتَشْفِعُ بِكَ اِلى نَفْسِكَ وَ اَسْئَلُكَ بِجُودِكَ اَنْ تُدْنِيَنى مِنْ

dengan cara mengingat-Mu (berdzikir pada-Mu), dan aku meminta pertolongan (syafa’at) dari diri-Mu untuk meraih-Mu, dan aku memohon kedermawaan-Mu agar mendekatkan diri ini

قُرْبِكَ وَ اَنْ تُوزِعَنى شُكْرَكَ وَ اَنْ تُلْهِمَنى ذِكْرَكَ اَللّهُمَّ اِنّى اَسْئَلُكَ

padamu. Lalu Kau karuniakan aku syukur, mengilhamkanku dzikir. Ya Allah, sungguh aku memohon pada-Mu

سُؤ الَ خاضِعٍ مُتَذَلِّلٍ خاشِعٍ اَنْ تُسامِحَنى وَ تَرْحَمَنى وَ تَجْعَلَنى

dengan permohonan orang yang rendah, hina, khusyu’, agar Kau memaafkan aku, merahmatiku, dan menjadikanku

بِقَِسْمِكَ راضِياً قانِعاً وَ فى جَميعِ الاْحْوالِ مُتَواضِعاً اَللّهُمَّ وَ اَسْئَلُكَ

ridha dan merasa cukup dengan pemberian-Mu. Juga jadikan aku senantiasa rendah hati dalam setiap keadaan. Ya Tuhanku, aku meminta dari-Mu

سُؤالَ مَنِ اشْتَدَّتْ فاقَتُهُ وَ اَنْزَلَ بِكَ عِنْدَ الشَّدآئِدِ حاجَتَهُ وَ عَظُمَ

dengan permintaan orang yang begitu besar kebutuhannya, yang telah meluapkan segala kebutuhannya pada-Mu saat terdesak, yang juga besar

فيما عِنْدَكَ رَغْبَتُهُ اَللّهُمَّ عَظُمَ سُلْطانُكَ وَ عَلا مَكانُكَ وَ خَفِىَ

harapannya terhadap apa yang ada di sisi-Mu. Ya Allah, begitu agung kuasa-Mu dan tinggi tahta-Mu. Sungguh samar

مَكْرُكَ وَ ظَهَرَ اَمْرُكَ وَ غَلَبَ قَهْرُكَ وَ جَرَتْ قُدْرَتُكَ وَ لا يُمْكِنُ الْفِرارُ

makar-Mu, dan nampak perkara-Mu. Kekuatan-Mu selalu menang dan juga kudrat-Mu. Tak mungkin (ada yang bisa) lari

مِنْ حُكُومَتِكَ اَللّهُمَّ لا اَجِدُ لِذُنُوبى غافِراً وَ لا لِقَبائِحى ساتِراً وَ لا

dari kekuasaan-Mu. Ya Allah Tuhanku, aku tidak menemukan selain Engkau yang dapat memaafkan dosa-dosaku, dan tidak pula yang dapat menutupi keburukan-keburukanku. Juga tiada lagi selain-Mu

لِشَىْءٍ مِنْ عَمَلِىَ الْقَبيحِ بِالْحَسَنِ مُبَدِّلاً غَيْرَكَ لا اِلهَ اِلاّ اَنْتَ

yang bersedia membalas dengan kebaikan atas keburukan yang telah kulakukan. Benar tiada Tuhan selain Engkau.

سُبْحانَكَ وَ بِحَمْدِكَ ظَلَمْتُ نَفْسى وَ تَجَرَّأتُ بِجَهْلى وَ سَكَنْتُ اِلى

Maha suci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Aku telah zalim pada diriku sendiri. Telah lancang karena kebodohanku. Aku lalai karena merasa nyaman

قَديمِ ذِكْرِكَ لى وَ مَنِّكَ عَلَىَّ اَللّهُمَّ مَوْلاىَ كَمْ مِنْ قَبيحٍ سَتَرْتَهُ وَ كَمْ

karena Engkau selalu mengingatku dan mengasihiku. Ya Rabbi ya Tuhan, betapa banyak keburukanku yang telah kau tutupi? Betapa banyak

مِنْ فادِحٍ مِنَ الْبَلاَّءِ اَقَلْتَهُ وَ كَمْ مِنْ عِثارٍ وَقَيْتَهُ وَ كَمْ مِنْ مَكْرُوهٍ

bala dan bencana yang telah Kau hindarkan dariku? Betapa sering Engkau mencegahku tergelincir? Betapa Engkau

دَفَعْتَهُ وَ كَمْ مِنْ ثَناَّءٍ جَميلٍ لَسْتُ اَهْلاً لَهُ نَشَرْتَهُ اَللّهُمَّ عَظُمَ بَلاَّئى

menjagaku dari keburukan? Betapa sering pula Engkau menebar pujian-pujian untukku yang padahal aku tidak pantas mendapatkannya? Ya Allah, betapa besar balaku ini,

وَ اَفْرَطَ بى سُوَّءُ حالى وَ قَصُرَتْ بى اَعْمالى وَ قَعَدَتْ بى اَغْلالى

keterlaluan sudah buruknya keadaan hamba-Mu, sedikit sekali amalku, keterikatanku pada dunia telah mengekangku di sini,

وَ حَبَسَنى عَنْ نَفْعى بُعْدُ اَمَلى وَ خَدَعَتْنِى الدُّنْيا بِغُرُورِها وَ نَفْسى

angan-angan panjangku telah menahanku dari apa-apa yang dapat menguntungkanku. Dunia telah menipuku dengan tipuan-tipuannya! Dan diriku

بِجِنايَتِها وَ مِطالى يا سَيِّدى فَاَسْئَلُكَ بِعِزَّتِكَ اَنْ لا يَحْجُبَ عَنْكَ

terlumuri dosa dan keburukannya, lalu tinggal cukup lama di dalamnya. Wahai Tuhanku, kini aku memohon pada-Mu demi kemuliaan-Mu  jangan Kau biarkan doaku tertutupi (agar Engkau tidak berpaling dari doaku)

دُعاَّئى سُوَّءُ عَمَلى وَ فِعالى وَ لا تَفْضَحْنى بِخَفِىِّ مَا اطَّلَعْتَ عَلَيْهِ مِنْ

dikarenakan buruknya amal perbuatanku. Jangan pula Kau buka aib yang telah kulakukan

سِرّى وَلا تُعاجِلْنى بِالْعُقُوبَةِ عَلى ما عَمِلْتُهُ فى خَلَواتى مِنْ سُوَّءِ

saat aku sendiri. Jangan terburu-buru menurunkan hukuman padaku atas apa yang telah kulakukan di saat sepi,

فِعْلى وَ اِساَّئَتى وَ دَوامِ تَفْريطى وَ جَهالَتى وَ كَثْرَةِ شَهَواتى وَ غَفْلَتى

termasuk perbuatan-perbuatan burukku, keterlaluanku dan kebodohanku, tingginya syahwatku dan kelalaianku.

وَ كُنِ اللّهُمَّ بِعِزَّتِكَ لى فى كُلِّ الاْحْوالِ رَؤُفاً وَ عَلَىَّ فى جَميعِ

Tetaplah selalu sayang padaku demi kemuliaan-Mu dalam setiap keadaan, dan juga mengasihiku dakan segala

الاُْمُورِ عَطُوفاً اِلهى وَرَبّى مَنْ لى غَيْرُكَ اَسْئَلُهُ كَشْفَ ضُرّى

perkara. Ya Ilahi wahai Tuhanku, siapa lagi untukku selain-Mu? Yang dapat kuminta agar menyingkirkan keburukanku

وَالنَّظَرَ فى اَمْرى اِلهى وَ مَوْلاىَ اَجْرَيْتَ عَلَىَّ حُكْماً اِتَّبَعْتُ فيهِ

dan menoleh pada masalah-masalahku. Ilahi, engkau telah memberlakukan atasku hukum orang yang telah mengikuti

هَوى نَفْسى وَ لَمْ اَحْتَرِسْ فيهِ مِنْ تَزْيينِ عَدُوّى فَغَرَّنى بِما اَهْوى

hawa nafsu, dan aku benar-benar tidak berhat-hati dengan buaian musuhku yang kemudian menipuku sesuka hatinya

وَ اَسْعَدَهُ عَلى ذلِكَ الْقَضاَّءُ فَتَجاوَزْتُ بِما جَرى عَلَىَّ مِنْ ذلِكَ بَعْضَ

dan Qadha serta Qadar telah mendukungnya. Lalu dengan keadaan ini aku melangkahi

حُدُودِكَ وَ خالَفْتُ بَعْضَ اَوامِرِكَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَىَّ فى جَميعِ ذلِكَ

batasan-batasan yang seharusnya tak boleh kulangkahi; membangkang terhadap sebagian perintah-perintah-Mu. Maka segala puji bagi-Mu atas semua itu.

وَ لا حُجَّةَ لى فيما جَرى عَلَىَّ فيهِ قَضاَّؤُكَ وَ اَلْزَمَنى حُكْمُكَ

Aku tidak bisa berkata apa-apa atas hukuman yang Kau putuskan untukku karenanya, yang telah Kau pastikan dari hukuman

وَ بَلاؤُكَ وَ قَدْ اَتَيْتُكَ يا اِلهى بَعْدَ تَقْصيرى وَ اِسْرافى عَلى نَفْسى

dan bala-mu. Aku mendatangi-Mu wahai Tuhanku setelah segala kesalahan dan keterlaluanku atas diriku ini

مُعْتَذِراً نادِماً مُنْكَسِراً مُسْتَقيلاً مُسْتَغْفِراً مُنيباً مُقِرّاً مُذْعِناً مُعْتَرِفاً لا

dengan meminta maaf, menyesal, patah hati, beristighfar, bertaubat, mengaku atas dosaku…

اَجِدُ مَفَرّاً مِمّا كانَ مِنّى وَ لا مَفْزَعاً اَتَوَجَّهُ اِلَيْهِ فى اَمْرى غَيْرَ قَبُولِكَ

Aku tidak menemukan jalan untuk lari dan berlindung ketakutan. Aku menuju-Mu dalam masalah ini

عُذْرى وَ اِدْخالِكَ اِيّاىَ فى سَعَةِ رَحْمَتِكَ اَللّهُمَّ فَاقْبَلْ عُذْرى

agar Kau menerima uzurku, memasukkanku ke dalam rahmat-Mu. Ya Allah, terimalah maaf ini

وَارْحَمْ شِدَّةَ ضُرّى وَ فُكَّنى مِنْ شَدِّ وَ ثاقى يا رَبِّ ارْحَمْ ضَعْفَ

kasihanilah hamba yang sangat buruk ini. Bebaskan aku dari belenggu dosaku. Ya Rabbi, kasihani tubuhku

بَدَنى وَ رِقَّةَ جِلْدى وَ دِقَّةَ عَظْمى يا مَنْ بَدَءَ خَلْقى وَ ذِكْرى وَ تَرْبِيَتى

yang lemah ini, kulitnya yang tipis, dan tulangnya yang rapuh. Wahai yang memulai penciptaanku dan mendidikku,

وَ بِرّى وَ تَغْذِيَتى هَبْنى لاِبْتِدآءِ كَرَمِكَ وَ سالِفِ بِرِّكَ بى يا اِلهى

lalu berbuat baik padaku dan menghidupiku, berilah kembali kebaikan-Mu itu sebagaimana yang lalu. Ya Ilahi

وَ سَيِّدى وَ رَبّى اَتُراكَ مُعَذِّبى بِنارِكَ بَعْدَ تَوْحيدِكَ وَ بَعْدَ مَا انْطَوى

wahai Tuhanku, apakah benar Kau akan membiarkanku diadzab di neraka-Mu setelah aku mengakui keesaan-Mu? Setelah hati ini

عَلَيْهِ قَلْبى مِنْ مَعْرِفَتِكَ وَ لَهِجَ بِهِ لِسانى مِنْ ذِكْرِكَ وَاعْتَقَدَهُ

menyadari keagungan-Mu? dan lidahku bergetar saat mengingat-Mu? sampai-sampai lidahku lancar berdzikir menyebut nama-Mu,

ضَميرى مِنْ حُبِّكَ وَ بَعْدَ صِدْقِ اعْتِرافى وَ دُعاَّئى خاضِعاً لِرُبُوبِيَّتِكَ

dan jiwaku telah terikat dengan kecintaan pada-Mu. Apa benar Kau akan menyiksaku setelah kuakui Engkau secara jujur, berdoa pada-Mu secara tulus, tunduk akan rububiyah-Mu?

هَيْهاتَ اَنْتَ اَكْرَمُ مِنْ اَنْ تُضَيِّعَ مَنْ رَبَّيْتَهُ اَوْ تُبْعِدَ مَنْ اَدْنَيْتَهُ اَوْ

Tidak… Engkau tidak mungkin menghempaskan begitu saja hamba yang telah Kau didik. Maha Mulia Engkau untuk menjauhkan hamba yang pernah Kau dekatkan dan Kau sayangi,

تُشَرِّدَ مَنْ اوَيْتَهُ اَوْ تُسَلِّمَ اِلَى الْبَلاءِ مَنْ كَفَيْتَهُ وَ رَحِمْتَهُ وَ لَيْتَ

dan menceburkannya dalam bala dan bencana padahal Engkau telah mencukupinya dan merahmatinya.

شِعْرى يا سَيِّدى وَ اِلهى وَ مَوْلاىَ اَتُسَلِّطُ النّارَ عَلى وُجُوهٍ خَرَّتْ

Aku ingin tahu, wahai Tuhanku… Apakah Kau akan membakar wajah-wajah yang telah tunduk

لِعَظَمَتِكَ ساجِدَةً وَ عَلى اَلْسُنٍ نَطَقَتْ بِتَوْحيدِكَ صادِقَةً وَ بِشُكْرِكَ

karena keagungan-Mu dalam sujud, Lidah yang mengucap tulus akan keesaan-Mu; hamba yang

مادِحَةً وَ عَلى قُلُوبٍ اعْتَرَفَتْ بِاِلهِيَّتِكَ مُحَقِّقَةً وَ عَلى ضَماَّئِرَ حَوَتْ

telah memuji-Mu karena mensyukuri-Mu; hamba yang mengaku di hatinya bahwa Engkau benar-benar Tuhannya; hamba yang

مِنَ الْعِلْمِ بِكَ حَتّى صارَتْ خاشِعَةً وَ عَلى جَوارِحَ سَعَتْ اِلى اَوْطانِ

hatinya penuh pengetahuan tentang-Mu hingga merasa takut; hamba yang tubuhnya bergegas dihantarkan menuju tempat ibadah-Mu

تَعَبُّدِكَ طاَّئِعَةً وَ اَشارَتْ بِاسْتِغْفارِكَ مُذْعِنَةً ما هكَذَا الظَّنُّ بِكَ وَ لا

dengan penuh kerinduan; dan mengisyarahkan istighfarnya dengan penuh harapan pengampunan. Sunggah tidak seperti itu prasangkaku

اُخْبِرْنا بِفَضْلِكَ عَنْكَ يا كَريمُ يا رَبِّ وَ اَنْتَ تَعْلَمُ ضَعْفى عَنْ قَليلٍ

Aku sering sekali mendengar tentang kemurahan-Mu. Wahai Yang Maha Pemurah waha Rabb-ku. Engkau tahu jelas betapa lemahnya aku

مِنْ بَلاَّءِ الدُّنْيا وَ عُقُوباتِها وَ ما يَجْرى فيها مِنَ الْمَكارِهِ عَلى اَهْلِها

yang tidak mampu bertahan atas bala di dunia dan hukuman yang sedikit ini, atas segala yang menimpa penduduknya dari kesusahan-kesusahan.

عَلى اَنَّ ذلِكَ بَلاَّءٌ وَ مَكْرُوهٌ قَليلٌ مَكْثُهُ يَسيرٌ بَقاَّئُهُ قَصيرٌ مُدَّتُهُ

Padahal bala dan kesusahan itu hanya sedikit, sebentar, dan pendek masanya.

فَكَيْفَ احْتِمالى لِبَلاَّءِ الاْخِرَةِ وَ جَليلِ وُقُوعِ الْمَكارِهِ فيها وَهُوَ بَلاَّءٌ

Lalu bagaimana mungkin daku bertahan dalam bala dan siksa akhirat dan segala hukuman yang ada di sana?

تَطُولُ مُدَّتُهُ وَ يَدُومُ مَقامُهُ وَ لا يُخَفَّفُ عَنْ اَهْلِهِ لاِنَّهُ لا يَكُونُ اِلاّ

Yang berlangsung lama dan tidak ada keringanan bagi penghuninya karena amarah-Mu…

عَنْ غَضَبِكَ وَاْنتِقامِكَ وَ سَخَطِكَ وَ هذا ما لا تَقُومُ لَهُ السَّمواتُ

Karena murka-Mu. Bahkan langit dan bumi pun tak mampu menahan siksa hukuman itu.

وَالاَْرْضُ يا سَيِّدِى فَكَيْفَ لى وَ اَنَا عَبْدُكَ الضَّعيفُ الذَّليلُ

Apa lagi aku? Aku hambamu yang lemah, hina,

الْحَقيرُ الْمِسْكينُ الْمُسْتَكينُ يا اِلهى وَ رَبّى وَ سَيِّدِى وَ مَوْلاىَ

malang, papa. Ya Tuhanku,

لاِىِّ الاُْمُورِ اِلَيْكَ اَشْكُو وَ لِما مِنْها اَضِجُّ وَ اَبْكى لاِليمِ الْعَذابِ

apa yang akan kuadukan pada-Mu di sana nanti? Karena apa kelak aku akan menangis di sana? Apakah karena pedihnya siksaan,

وَ شِدَّتِهِ اَمْ لِطُولِ الْبَلاَّءِ وَ مُدَّتِهِ فَلَئِنْ صَيَّرْتَنى لِلْعُقُوباتِ مَعَ

atau karena lamanya aku akan disiksa? Jika seandainya Kau akan mengumpulkanku bersama

اَعْدآئِكَ وَ جَمَعْتَ بَيْنى وَ بَيْنَ اَهْلِ بَلاَّئِكَ وَ فَرَّقْتَ بَيْنى وَ بَيْنَ

musuh-musuh-Mu, bersama penduduk neraka-Mu, dan Kau pisah aku dari

اَحِبّاَّئِكَ وَ اَوْلياَّئِكَ فَهَبْنى يا اِلهى وَ سَيِّدِى وَ مَوْلاىَ وَ رَبّى

hamba-hamba kecintaan-Mu, maka ya Tuhan,

صَبَرْتُ عَلى عَذابِكَ فَكَيْفَ اَصْبِرُ عَلى فِراقِكَ وَ هَبْنى صَبَرْتُ عَلى

aku mungkin masih bisa bersabar atas siksaan itu. Namun bagaimana aku bisa bersabar atas perpisahan dari-Mu? Anggaplah aku tahan dengan

حَرِّ نارِكَ فَكَيْفَ اَصْبِرُ عَنِ النَّظَرِ اِلى كَرامَتِكَ اَمْ كَيْفَ اَسْكُنُ فِى

panasnya api neraka-Mu, lalu bagaimana aku bisa bersabar untuk ingin merasakan kasih-Mu. Bagaimana aku tinggal di neraka?

النّارِ وَ رَجاَّئى عَفْوُكَ فَبِعِزَّتِكَ يا سَيِّدى وَ مَوْلاىَ اُقْسِمُ صادِقاً لَئِنْ

Sedang harapanku adalah maaf-Mu. Maka demi kemuliaan-Mu, wahai Tuhanku, aku bersumpah,

تَرَكْتَنى ناطِقاً لاَضِجَّنَّ اِلَيْكَ بَيْنَ اَهْلِها ضَجيجَ الاْ مِلينَ وَ لاَصْرُخَنَّ

jika engkau membiarkanku dapat berbicara di sana, aku akan berteriak

اِلَيْكَ صُراخَ الْمَسْتَصْرِخينَ وَ لاََبْكِيَنَّ عَلَيْكَ بُكاَّءَ الْفاقِدينَ

di tengah-tengah mereka memanggil-Mu, menangis karena kehilangan-Mu,

وَ لاَُنادِيَنَّكَ اَيْنَ كُنْتَ يا وَلِىَّ الْمُؤْمِنينَ يا غايَةَ امالِ الْعارِفينَ يا

akan kupanggil nama-Mu: di manakah Engkau wahai pengayom orang-orang yang beriman!? Wahai harapan orang-orang arif, wahai

غِياثَ الْمُسْتَغيثينَ يا حَبيبَ قُلُوبِ الصّادِقينَ وَ يا اِلهَ الْعالَمينَ

pertolongan hamba-hamba yang memohon pertolongan, wahai kecintaan hati-hati yang tulus, wahai Tuhan semesta alam.

اَفَتُراكَ سُبْحانَكَ يا اِلهى وَ بِحَمْدِكَ تَسْمَعُ فيها صَوْتَ عَبْدٍ مُسْلِمٍ

Tegakah Engkau wahai Tuhanku yang kupuji, mendengar suara hamba-Mu di sana

سُجِنَ فيها بِمُخالَفَتِهِ وَ ذاقَ طَعْمَ عَذابِها بِمَعْصِيَتِهِ وَ حُبِسَ بَيْنَ

yang kesakitan terkurung api neraka-Mu karena pertentangannya, merasakan siksa-Mu karena maksiatnya, terperangkap di antara lapisan-lapisannya

اَطْباقِها بِجُرْمِهِ وَ جَريرَتِهِ وَ هُوَ يَضِجُّ اِلَيْكَ ضَجيجَ مُؤَمِّلٍ لِرَحْمَتِكَ

karena kejahatannya, sedang ia memelas dan memohon rahmat-Mu,

وَ يُناديكَ بِلِسانِ اَهْلِ تَوْحيدِكَ وَ يَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِرُبُوبِيَّتِكَ يا مَوْلاىَ

memanggilmu dengan lidah ahli Tauhid, bertawasul pada-Mu dengan rububiyah-Mu. Ya Rabbi,

فَكَيْفَ يَبْقى فِى الْعَذابِ وَ هُوَ يَرْجُوا ما سَلَفَ مِنْ حِلْمِكَ اَمْ كَيْفَ

bagaimana ia tetap berada dalam siksa sedang ia memohon apa yang ia dengar sebelumnya tentang ampun-Mu? Bagaimana

تُؤْلِمُهُ النّارُ وَ هُوَ يَأمُلُ فَضْلَكَ وَ رَحْمَتَكَ اَمْ كَيْفَ يُحْرِقُهُ لَهيبُها

api menyakitinya sedang ia senantiasa merenungi karunia dan rahmat-Mu?

وَ اَنْتَ تَسْمَعُ صَوْتَهُ وَ تَرى مَكانَهُ اَمْ كَيْفَ يَشْتَمِلُ عَلَيْهِ زَفيرُها

Engkau sendiri sedang mendengar suaranya, melihat di mana ia berada, yang sedemikian rupa disambar kobaran api

وَ اَنْتَ تَعْلَمُ ضَعْفَهُ اَمْ كَيْفَ يَتَقَلْقَلُ بَيْنَ اَطْباقِها وَ اَنْتَ تَعْلَمُ صِدْقَهُ اَمْ

padahal Kau tahu betapa ia lemah. Bagimana ia jatuh bangun di sana sedang Kau tahu ketulusannya?

كَيْفَ تَزْجُرُهُ زَبانِيَتُها وَ هُوَ يُناديكَ يا رَبَّهُ اَمْ كَيْفَ يَرْجُو فَضْلَكَ فى

Bangaimana para penjaga neraka menggiringnya dengan kasar sedang ia selalu merintih, “Ya Tuhanku…” Bagaimana ia mengharap kemurahan-Mu

عِتْقِهِ مِنْها فَتَتْرُكُهُ فيها هَيْهاتَ ما ذلِكَ الظَّنُ بِكَ وَ لاَالْمَعْرُوفُ مِنْ

namun Engkau meninggalkannya? Tidak, sungguh aku tidak menyangka Engkau akan seperti itu. Bukan seperti itu apa yang sering aku dengar

فَضْلِكَ وَ لا مُشْبِهٌ لِما عامَلْتَ بِهِ الْمُوَحِّدينَ مِنْ بِرِّكَ وَ اِحْسانِكَ

tentang kemurahan-Mu. Sama sekali tidak seperti bagaimana Engkau memperlakukan hamba-hamba yang mengesakan-Mu

فَبِالْيَقينِ اَقْطَعُ لَوْ لا ما حَكَمْتَ بِهِ مِنْ تَعْذيبِ جاحِديكَ وَ قَضَيْتَ

Dengan penuh yakin, jika seandainya Engkau tidak berjanji untuk menyiksa para pendosa-Mu, jika sebelumnya Engkau tidak

بِهِ مِنْ اِخْلادِ مُعانِديكَ لَجَعَلْتَ النّارَ كُلَّها بَرْداً وَ سَلاماً وَ ما كانَ

bertekat untuk mengekalkan musuh-musuh-Mu di sana, Engkau pasti telah menjadikan api neraka seluruhnya dingin dan tentram;

لاِحَدٍ فيها مَقَرّاً وَ لا مُقاماً لكِنَّكَ تَقَدَّسَتْ اَسْماَّؤُكَ اَقْسَمْتَ اَنْ

tidak akan ada satupun yang akan tinggal di sana. Namun amat suci nama-Mu. Engkau telah berjanji

تَمْلاَها مِنَ الْكافِرينَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنّاسِ اَجْمَعينَ وَ اَنْ تُخَلِّدَ فيهَا

untuk memenuhinya dengan orang-orang kafir, baik dari jin maupun manusia, dan mengkekalkan di dalamnya

الْمُعانِدينَ وَ اَنْتَ جَلَّ ثَناؤُكَ قُلْتَ مُبْتَدِئاً وَ تَطَوَّلْتَ بِالاِْنْعامِ مُتَكَرِّماً

orang-orang yang menentang. Engkau juga telah berkata sebelumnya, dan telah menganugerahkan nikmat-nikmat ini atas kedermawanan-Mu,

اَفَمَنْ كانَ مُؤْمِناً كَمَنْ كانَ فاسِقاً لا يَسْتَوُونَ اِلهى وَ سَيِّدى

seraya Kau katakan, “Apakah orang yang beriman sama dengan orang fasik? Sungguh berbeda.” Ya Ilahi, wahai junjunganku,

فَاَسْئَلُكَ بِالْقُدْرَةِ الَّتى قَدَّرْتَها وَ بِالْقَضِيَّةِ الَّتى حَتَمْتَها وَ حَكَمْتَها

maka aku memohon dengan kekuatan yang telah Kau kudratkan, dan dengan keputusan yang telah Kau putuskan dan pastikan,

وَ غَلَبْتَ مَنْ عَلَيْهِ اَجْرَيْتَها اَنْ تَهَبَ لى فى هذِهِ اللَّيْلَةِ وَ فى هذِهِ

dan telah Kau menangi siapapun yang Kau berlakukan itu atasnya, agar Kau memberikan daku di malam ini,

السّاعَةِ كُلَّ جُرْمٍ اَجْرَمْتُهُ وَ كُلَّ ذَنْبٍ اَذْنَبْتُهُ وَ كُلَّ قَبِيحٍ اَسْرَرْتُهُ وَ كُلَّ

dan detik ini juga, anugrah maaf atas segala kejahaan yang telah kujalani, juga dosa yang telah kulakukan, keburukan yang telah kusembunyikan, dan segala

جَهْلٍ عَمِلْتُهُ كَتَمْتُهُ اَوْ اَعْلَنْتُهُ اَخْفَيْتُهُ اَوْ اَظْهَرْتُهُ وَ كُلَّ سَيِّئَةٍ اَمَرْتَ

kebodohan yang telah kulakukan; baik diam-diam atau terang-terangan; kusembunyikan atau kutampakkan; dan segala nista yang telah kau perintahkan

بِاِثْباتِهَا الْكِرامَ الْكاتِبينَ الَّذينَ وَكَّلْتَهُمْ بِحِفْظِ ما يَكُونُ مِنّى

para malaikat mulia untuk mencatatnya, yang Kau percaya untuk mengingat apa yang telah kukerjakan

وَ جَعَلْتَهُمْ شُهُوداً عَلَىَّ مَعَ جَوارِحى وَ كُنْتَ اَنْتَ الرَّقيبَ عَلَىَّ مِنْ

dan Kau jadikan mereka saksi atas apa yang dilakukan anggota tubuhku. Engkau juga selalu ada di

وَراَّئِهِمْ وَالشّاهِدَ لِما خَفِىَ عَنْهُمْ وَ بِرَحْمَتِكَ اَخْفَيْتَهُ وَ بِفَضْلِكَ

belakang mereka, dan menyaksikan apa yang tidak mereka saksikan. Karena rahmat-Mu pula semua keburukan itu Kau tutupi.

سَتَرْتَهُ وَ اَنْ تُوَفِّرَ حَظّى مِنْ كُلِّ خَيْرٍ اَنْزَلْتَهُ اَوْ اِحْسانٍ فَضَّلْتَهُ اَوْ بِرٍّ

Aku juga memohon agar memenuhi nasibku ini dengan segala kebaikan yang Kau turunkan, cinta dan kasih sayang yang Kau anugerahkan;

نَشَرْتَهُ اَوْ رِزْقٍ بَسَطْتَهُ اَوْ ذَنْبٍ تَغْفِرُهُ اَوْ خَطَاءٍ تَسْتُرُهُ يا رَبِّ يا رَبِّ

lingkupi aku dengan kebaikan yang Kau tebar, rizki yang kau gelar, pengampunan atas dosa, juga tutupi kejelekanku ini. Ya Rabbi, ya Rabbi, ya Rabbi.

يا رَبِّ يا اِلهى وَ سَيِّدى وَ مَوْلاىَ وَ مالِكَ رِقّى يا مَنْ بِيَدِهِ

Ya Allah wahai Tuhanku, Tuanku, dan pemilik diriku, wahai yang

ناصِيَتى يا عَليماً بِضُرّى وَ مَسْكَنَتى يا خَبيراً بِفَقْرى وَ فاقَتى

menguasai ikhtiarku, wahai yang tahu buruk dan malangnya aku, wahai yang mendengar fakir dan miskinnya hambamu ini,

يا رَبِّ يا رَبِّ يا رَبِّ اَسْئَلُكَ بِحَقِّكَ وَ قُدْسِكَ وَ اَعْظَمِ صِفاتِكَ

ya Rabbi, ya Rabbi, ya Rabbi, aku memohon pada-Mu demi hak-Mu, kudus-Mu, dan sifat-sifat agung-Mu…

وَ اَسْماَّئِكَ اَنْ تَجْعَلَ اَوْقاتى مِنَ اللَّيْلِ وَالنَّهارِ بِذِكْرِكَ مَعْمُورَةً

juga dengan nama-nama-Mu, agar Kau jadikan waktu-waktuku di malam dan siang hari penuh dengan dzikir pada-Mu

وَ بِخِدْمَتِكَ مَوْصُولَةً وَ اَعْمالى عِنْدَكَ مَقْبُولَةً حَتّى تَكُونَ اَعْمالى

khidmat untuk-Mu selalu, dan Kau terima amal-amalku; sehingga segala yang kulakukan

وَ اَوْرادى كُلُّها وِرْداً واحِداً وَ حالى فى خِدْمَتِكَ سَرْمَداً يا سَيِّدى يا

bagaikan wirid-wirid yang satu, dan aku selalu dalam keadaan berkhidmat untukmu.

مَنْ عَلَيْهِ مُعَوَّلى يا مَنْ اِلَيْهِ شَكَوْتُ اَحْوالى يا رَبِّ يا رَبِّ يا رَبِّ

Wahai sandaranku, wahai tempatku mengadukan kondisiku, ya Rabbi, ya Rabbi, ya Rabbi,

قَوِّ عَلى خِدْمَتِكَ جَوارِحى وَاشْدُدْ عَلَى الْعَزيمَةِ جَوانِحى وَ هَبْ لِىَ

kuatkanlah tubuh hambamu untuk berkhidmat, kokohkan tekatku, berilah aku

الْجِدَّ فى خَشْيَتِكَ وَالدَّوامَ فِى الاِْتِّصالِ بِخِدْمَتِكَ حَتّى اَسْرَحَ اِلَيْكَ

kesungguhan dalam berkhusyuk, istiqamah untuk selalu terus menerus berkhidmat, sehingga aku dapat bergegas menuju-Mu

فى مَيادينِ السّابِقينَ وَ اُسْرِعَ اِلَيْكَ فِى الْبارِزينَ وَ اَشْتاقَ اِلى

di medan-medan para kekasih-Mu yang menuju, menyusul menjadi yang terdepan, merindukan

قُرْبِكَ فِى الْمُشْتاقينَ وَ اَدْنُوَ مِنْكَ دُنُوَّ الْمُخْلِصينَ وَ اَخافَكَ مَخافَةَ

kedekatan dengan-Mu seperti para perindu lainnya, menjadi lebih dekat sebagaimana orang-orang yang ikhlas, takut akan azab-Mu

الْمُوقِنينَ وَ اَجْتَمِعَ فى جِوارِكَ مَعَ الْمُؤْمِنينَ اَللّهُمَّ وَ مَنْ اَرادَنى

seperti takutnya mereka yang yakin, lalu aku berkumpul di sisi-Mu dengan orang-orang yang beriman. Ya Allah, siapapun yang menginginkan keburukan untukku

بِسُوَّءٍ فَاَرِدْهُ وَ مَنْ كادَنى فَكِدْهُ وَاجْعَلْنى مِنْ اَحْسَنِ عَبيدِكَ نَصيباً

maka tolaklah, siapapun yang dengki padaku dengkilah padanya, dan jadikan aku hamba yang paling bagus nasibnya di sisi-Mu

عِنْدَكَ وَ اَقْرَبِهِمْ مَنْزِلَةً مِنْكَ وَ اَخَصِّهِمْ زُلْفَةً لَدَيْكَ فَاِنَّهُ لا يُنالُ ذلِكَ

dn paling dekat kedudukannya dengan-Mu, yang paling istimewa martabatnya di hadapan-Mu. Sungguh itu semua tidak akan dapat digapai

اِلاّ بِفَضْلِكَ وَ جُدْلى بِجُودِكَ وَاعْطِفْ عَلَىَّ بِمَجْدِكَ وَاحْفَظْنى

kecuali dengan karunia-Mu. Bermurah hatilah padaku dengan kemurah-hatian-Mu, torehkan perhatian-Mu padaku dengan keagungan-Mu

بِرَحْمَتِكَ وَاجْعَلْ لِسانى بِذِكْرِكَ لَهِجاً وَ قَلْبى بِحُبِّكَ مُتَيَّماً وَ مُنَّ

dengan rahmat-Mu jadikan lidah ini senantiasa menyebut-Mu dengan nyata, dan hatiku penuh cinta-Mu

عَلَىَّ بِحُسْنِ اِجابَتِكَ وَ اَقِلْنى عَثْرَتى وَاغْفِرْ زَلَّتى فَاِنَّكَ قَضَيْتَ

karuniakan daku jawaban doa, kurangi ketergelinciranku, ampuni kesalahanku. Sesungguhnya Engkau telah

عَلى عِبادِكَ بِعِبادَتِكَ وَ اَمَرْتَهُمْ بِدُعاَّئِكَ وَ ضَمِنْتَ لَهُمُ الاِْجابَةَ

memerintahkan hamba-hamba-Mu untuk menyembah-Mu, menyuruh mereka berdoa, dan Kau janjikan jawaban serta ijabah

فَاِلَيْكَ يا رَبِّ نَصَبْتُ وَجْهى وَ اِلَيْكَ يا رَبِّ مَدَدْتُ يَدى فَبِعِزَّتِكَ

maka kini kutengadahkan wajahku pada-Mu, dan kepada-Mu ya Tuhan kuangkat kedua tanganku,

اسْتَجِبْ لى دُعاَّئى وَ بَلِّغْنى مُناىَ وَ لا تَقْطَعْ مِنْ فَضْلِكَ رَجاَّئى

demi kesucian-Mu, jawablah doaku ini, sampaikan aku kepada harapanku, jangan Kau potong harapan ini terhadap kemurahan-Mu,

وَاكْفِنى شَرَّ الْجِنِّ وَالاِْنْسِ مِنْ اَعْدآئى يا سَريعَ الرِّضا اِغْفِرْ لِمَنْ لا

jagalah aku dari keburukan jin dan manusia, dari golongan musuh-musuhku… Wahai Tuhan yang cepat ridha-Nya, ampuni hamba

يَمْلِكُ اِلا الدُّعاَّءَ فَاِنَّكَ فَعّالٌ لِما تَشاَّءُ يا مَنِ اسْمُهُ دَوآءٌ وَ ذِكْرُهُ

yang tidak memiliki apapun selain doa. Sesungguhnya Engkau maha melakukan apapun yang Kau inginkan. Wahai yang nama-Nya adalah obat, dan mengingat-Nya

شِفاَّءٌ وَ طاعَتُهُ غِنىً اِرْحَمْ مَنْ رَأسُ مالِهِ الرَّجاَّءُ وَ سِلاحُهُ الْبُكاَّءُ يا

adalah kesembuhan, taat padanya adalah kekayaan, kasihi orang yang modalnya hanya harapan, senjatanya adalah tangisan, wahai

سابِغَ النِّعَمِ يا دافِعَ النِّقَمِ يا نُورَ الْمُسْتَوْحِشينَ فِى الظُّلَمِ يا عالِماً

yang selalu memberi nikmat, mencegah keburukan, wahai cahaya orang yang mencari pelita di kegelapan, wahai yang mengetahui

لا يُعَلَّمُ صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَافْعَلْ بى ما اَنْتَ اَهْلُهُ وَ صَلَّى

tanpa diberi tahu, curahkanlah shalawat-Mu pada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan perlakukan daku sebagaimana menurutmu layak Kau perlakukan.

اللّهُ عَلى رَسُولِهِ وَالاْئِمَّةِ الْمَيامينَ مِنْ الِهِ وَ سَلَّمَ تَسْليماً كَثيراً

Semoga Allah senantiasa menyampaikan salam sejahtera shalawat kepada utusan-Nya dan para imam dari keluarganya sebanyak-banyaknya.

 

DOA KUMAYL DENGAN TERJEMAHANNYA  

SYIAH DI INDONESIA



Pemerintah akan memantau kelompok-kelompok anti-Syiah di daerah Jawa Barat dan Jawa Timur dengan “sangat serius”, Wakil Menteri Agama Prof. DR. Nasaruddin Umar memperingatkan.

 

Nasaruddin mengatakan bahwa melarang mazhab Syiah akan menjadi “masalah yang sangat serius”, dengan alasan bahwa negara-negara Muslim bahkan yang konservatif seperti Arab Saudi tidak melarang perbedaan denominasi/mazhab.

Gerakan anti Syi’ah sudah mulai tersistematis dengan banyak sponsor dan kepentingan di dalamnya, NKRI dan kedamaian antar umat dan sesama pemeluk mazhab adalah harga mati jangan sampai negeri ini terkoyak dan berdarah-darah hanya karena perbedaan mazhab. Kita tak ingin seperti Pakistan dimana sengketa mazhab menjadi ajang baru perang saudara dan pembantaian demi pembantaian terjadi setiap hari dan pemerintah tak mampu menemukan formula yang tepat dalam menyelesaikan konflik-konflik bernuasa sektarian tersebut.

Anarkhisme Sampang, Fatwa Sesat MUI Sampang, sampai yang terakhir MUSYAWARAH ‘ULAMA DAN UMMAT ISLAM INDONESIA KE-2 di MASJID AL-FAJR, BANDUNG – JAWA BARAT, AHAD 30 JUMADAL AWWAL 1433/22 APRIL 2012“MERUMUSKAN LANGKAH STRATEGIS UNTUK MENYIKAPI PENYESATAN DAN PENGHINAAN PARA PENGANUT SYI’AH”.Sekitar 200 ulama dari berbagai daerah berkumpul di masjid Al Fajr-Kota Bandung,Ahad (22/4), menghadiri undangan Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) dalam acara Musyawarah ‘Ulama dan Ummat Islam Indonesia ke-2 dengan agenda “Merumuskan Langkah Strategis Untuk Menyikapi Penyesatan dan Penghinaan Para Penganut Syi’ah”. Ulama-ulama tersebut dari berbagai pesantren dan ormas Islam seperti Persis, Muhamadiyah, NU, Hidayatullah, Al Irsyad, DDII, PUI, termasuk MUI Pusat.Musyawarah ini juga dihadiri Wali Kota Bandung, Dada Rosada dan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawawan Lc. Hasil Musyawarah disepakati Hanya Ada Satu Kata Syi’ah Sesat dan di Luar Islam.


Indonesia sebagai negeri berpenduduk Muslim terbesar sangatlah strategis apabila tak diantisipasi sejak dini maka makar dan agenda tersembunyi Zionis dan Salibis Internasional untuk melemahkan Islam dari dalam cepat atau lambat pasti akan terjadi dengan tetap konsisten menyokong setiap gerakan yang menyulut perbedaan mazhab. Disintegrasi dan konflik yang lebih luas hanya tinggal menunggu waktu saja dan negeri ini akan menjadi negeri yang porak-poranda. 

“Kita juga harus berhati-hati dengan masalah ini, karena dapat mengganggu hubungan kita dengan negara-negara seperti Iran, yang mayoritas warganya yang memeluk Islam Syiah,” katanya dalam menanggapi sentimen anti-Syiah di Jawa Barat dan Jawa Timur.
Di Jawa Timur, beberapa ulama Sunni di Madura dan daerah lainnya di provinsi ini telah meminta pemerintah daerah untuk mengeluarkan peraturan yang membatasi penyebaran Islam Syiah, dengan alasan bahwa sekte tersebut “cocok” dengan kriteria sesat yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia pada tahun 2007.
Desember lalu, ratusan orang membakar empat rumah, masjid dan fasilitas lain di sebuah Pondok Pesantren yang dikelola oleh Tajul Muluk, pemimpin Syiah di Sampang. Tajul sendiri sekarang menghadapi persidangan atas tuduhan “penistaan agama”.
Di Jawa Barat, ulama Sunni telah memperingatkan masyarakat untuk “mencegah” penyebaran Syiah di daerah tersebut.
Nasaruddin, dosen tafsir al-Quran, mengatakan bahwa sementara semua warga negara bebas untuk mengusulkan peraturan untuk pemerintah daerah, selama usulan peraturan tidak bertentangan dengan konstitusi.
Menanggapi keluhan dari peraturan yang membatasi ajaran agama, terutama orang-orang dari sekte Ahmadiyah, Kementerian Dalam Negeri telah mengatakan mereka tidak melanggar konstitusi dan undang-undang otonomi daerah.

Dihubungi secara terpisah, akademisi Muslim Komaruddin Hidayat mengatakan bahwa pengikut Syiah selalu menjadi bagian dari sejarah Islam, dan mengatakan bahwa orang yang memperdebatkan keberadaan Syiah sebagai orang yang “tidak pernah belajar sejarah”.
“Pengikut Syiah di masa lalu banyak memberikan kontribusi kepada Islam, terutama dalam hal ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, ulama Sunni, termasuk di Arab Saudi, tidak pernah memperdebatkan keberadaan mereka,” katanya.
Dia mendesak pemerintah untuk melindungi pengikut Syiah dari serangan apapun, dan mengatakan bahwa pemerintah harus menjaga kerukunan antar-iman dengan mencegah peraturan yang bisa menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) Said Aqil Siradj mengatakan bahwa sekalipun ajaran Syiah memiliki beberapa perbedaan dengan arus utama Islam di Indonesia, NU tidak akan pernah meminta pemerintah untuk melarang pengikut Syiah.
“Nabi Muhammad telah memperingatkan kita bahwa bagaimanapun juga kita tidak boleh bertengkar satu sama lain karena perbedaan-perbedaan kita,” kata kang Said kepada The Jakarta Post (Sabtu, 5 Mei 2012).


Prof. DR. Komaruddin Hidayat:
Iran dan Syiah Memiliki Kontribusi Besar dalam Peradaban Islam

 
“Siapa saja yang tidak mengakui keberadaan Syiah pada hakikatnya tidak memiliki pengenalan sedikitpun dengan sejarah Islam. Karena tidak satupun ulama Sunni yang mengingkari peran dan kontribusi besar Iran dalam peradaban Islam.”
Iran dan Syiah Memiliki Kontribusi Besar dalam Peradaban IslamMenurut Kantor Berita ABNA, Prof. DR. Komaruddin Hidayat pemikir dan cendekiawan muslim Indonesia yang juga menjabat sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak tahun 2006 dalam wawancaranya dengan wartawan the Jakarta Post menegaskan, “Siapa saja yang tidak mengakui keberadaan Syiah pada hakikatnya tidak memiliki pengenalan sedikitpun dengan sejarah Islam. Karena tidak satupun ulama Sunni yang mengingkari peran dan kontribusi besar Iran dalam peradaban Islam.”
KH. Said Aqil Siraj Ketua Umum PB Nahdatul Ulama menyatakan hal serupa dengan menyebutkan Syiah tidak bisa dipisahkan dari dunia Islam, Sunni dan Syiah menurutnya dua mazhab besar dalam Islam dan bersaudara sudah selayaknya saling berangkulan bukan bermusuhan, “Sesuai dengan pengajaran Nabi, perbedaan yang terdapat dalam tubuh umat Islam tidak layak dijadikan alasan untuk saling bermusuhan.”
Sementara itu Prof. DR. Nasaruddin Umar, MA wakil Menteri Agama RI menyatakan ketidaksepakatannya atas permintaan sejumlah kelompok umat Islam yang meminta Syiah menjadi mazhab yang haram dan terlarang di Indonesia. Dalam sambutannya pada penyelenggaran Seminar “The Role and Contribution of Iranian to Islamic Civilization” awal Maret lalu mengakui peran dan kontribusi Iran dalam peradaban Islam, terutama pasca revolusi Iran tahun 1979, merupakan suatu kenyataan yang dicatat dalam sejarah, seperti aspek keagamaan, budaya, pembaharuan pemikiran, ilmu pengetahuan, dan teknologi. “Pembaharuan pemikiran Islam yang dialami Iran menarik kajian berbagai kalangan, terutama para intelektual dan generasi muda, melalui penerjemahan buku-buku yang ditulis oleh para ulama dan cendekiawan muslim Iran sampai hari ini” tegasnya.
Menurut pengakuannya, sebagai paham keagamaan, Sunni dan Syi’i memang terdapat perbedaan di samping persamaan. “Namun untuk membangun hubungan yang harmonis dan kerukunan bersama, sepatutnya persamaan terus dikembangkan dan diperkuat, sementara perbedaan harus terus diminimalisasi dengan semangat ukhuwah Islamiyah” pesannya.

“Apa yang disebut dengan “Risalah Amman” (The Amman Massage) tanggal 9 November 2004 yang ditandatangani oleh ratusan ulama sedunia, agar dijadikan acuan hidup Sunni-Syi’i”, tegas beliau lebih lanjut.
http://abna.ir/data.asp?lang=12&id=313242

Govt to keep an eye on alleged anti-Shiite movements
The Jakarta Post, Jakarta | Thu, 05/03/2012 5:36 PM
The government will monitor anti-Shiite groups in the regions of West Java and East Java “very seriously”, Deputy Religious Affairs Minister Nasaruddin Umar has warned.
Nasaruddin said that outlawing the Shia sect would be “a very serious problem”, arguing that even conservative Muslim countries such as Saudi Arabia have never banned the denomination.
“We must also be very careful with this issue, because it may disturb our relations with countries like Iran, which has many citizens who follow the Shia teachings,” he said in response to anti-Shiite sentiments in West Java and East Java.
In East Java, several Sunni clerics in Madura and other areas in the province have asked the local administration to issue a regulation limiting the spread of Shia Islam, arguing that the sect matched the criteria for heresy issued by the Indonesian Ulema Council in 2007.
Last December, hundreds of people burned four houses, a prayer house and other facilities at a boarding school run by Tajul Muluk, a Shiite leader. Tajul is standing trial on blasphemy charges.
In West Java, Sunni clerics have warned people to avoid the spread of Shia Islam in the area.
Nasaruddin, a lecturer of Koran interpretation, said that while all citizens were free to propose regulations for local administrations, bylaws should not oppose the Constitution.
In response to complaints of bylaws restricting religious teachings, mainly those of the Ahmadiyah sect, the Home Ministry has said they do not violate the Constitution and the regional autonomy law.
Contacted separately, Muslim scholar Komaruddin Hidayat said that Shiite followers have always been a part of the history of Islam, citing that people debating their existence “had never studied history”.
“Shia followers in the past contributed a lot to Islam, in terms of knowledge. Therefore, Sunni ulema, particularly in Saudi Arabia, have never debated their existence,” he said.
He urged the government to protect Shia followers from any attack, saying that the government must preserve inter-faith harmony by avoiding bylaws that could destroy the nation’s unity.
Meanwhile, Nahdlatul Ulama (NU) executive board chairman Said Aqil Siradj said that while Shiite teachings differed from mainstream Islam in Indonesia, the NU has never asked the government to ban Shia followers.
“The Prophet Muhammad has told us that we must not fight each other regardless of our differences,” he told the Post. (asa)
http://www.thejakartapost.com/news/2012/05/03/govt-keep-eye-alleged-anti-shiite-movements.html#

PENUNJUKAN IMAM DAPAT DIKETAHUI MELALUI DEKLARASI NABI ATAU IMAM SEBELUMNYA.

PENUNJUKAN IMAM DAPAT DIKETAHUI MELALUI
DEKLARASI NABI ATAU IMAM SEBELUMNYA.
Ben Michael Tan
CONFESSION [PENGAKUAN]
THE FAREWELL PILGRIMAGE [HAJI WADA]

Pada tanggal 18 dzul-hajjah, setelah menyelesaikan ibadah haji terakhirnya (hajjatul-widaa), nabi sawa meninggalkan mekah menuju madinah, di mana ia dan kerumunan orang mencapai tempat bernama ghadir khum (yang dekat dengan juhfah hari ini). Itu adalah tempat di mana orang-orang dari berbagai DAERAH harus mengucapkan selamat tinggal yang baik untuk satu sama lain dan mengambil rute yang berbeda untuk rumah mereka. Di tempat ini, ayat berikut diturunkan:
HAI RASUL, SAMPAIKANLAH APA YANG DITURUNKAN KEPADAMU DARI TUHANMU. DAN JIKA TIDAK KAMU KERJAKAN KAMU TIDAK MENYAMPAIKAN AMANAT-NYA. ALLAH MEMELIHARA KAMU DARI MANUSIA . SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG-ORANG YANG KAFIR. [QS 5:67]
Rasul allah menyatakan : " tampaknya waktu mendekati ketika aku akan dipanggil ( oleh allah ) dan aku akan menjawab panggilan bahwa saya berangkat ke DUA HAL YANG BERHARGA DAN JIKA ANDA MEMATUHI KEDUANYA , KALIAN TIDAK AKAN TERSESAT SETELAH SAYA pergi . Adapun dua hal itu adalah KITAB ALLAH [ALQURAN] DAN SUNAH PADA KETURUNANKU [AHLULBAIT] . Kedua tidak akan pernah terpisah dari satu sama lain sampai mereka datang kepadaku didalam ( surga ). "

LALU RASULULLAH MELANJUTKAN: "APAKAH AKU TIDAK MEMILIKI HAK ATAS KAUM BERIMAN LEBIH DARI ADA DIRI MEREKA SENDIRI " TERIAK ORANG-ORANG DAN MENJAWAB : " YA , RASULULLAH . " KEMUDIAN NABI ( SAWA ) MENGANGKAT TANGAN ' ALI DAN BERKATA : "BARANG SIAPA MENGANGGAP AKU SEBAGAI PEMIMPINNYA (MAWLA), MAKA BAGINYA ALI ADALAH JUGA PEMIMPINNYA (MAWLA). YA ALLAH, DUKUNGLAH SIAPA YANG MENDUKUNG DIA (ALI), DAN MUSUHILAH SIAPA YANG MENJADI MUSUHNYA."

SEGERA SETELAH NABI (SAWA) SELESAI BERPIDATO, AYAT BERIKUT DARI AL QUR'AN DITURUNKAN:
..... PADA HARI INI TELAH KUSEMPURNAKAN UNTUK KAMU AGAMAMU, DAN TELAH KU-CUKUPKAN KEPADAMU NI'MAT-KU, DAN TELAH KU-RIDHAI ISLAM ITU JADI AGAMA BAGIMU.... [QS 5:3]



CONFESSION [PENGAKUAN]
KEPEMIMPINAN DAN BETAPA ALLAH SWT MENCINTAI AHLUL BAIT NABI
Berikut Adalah Beberapa Ayat Dari Al-Qur'an Tentang Kebenaran Pure Imams [Imam Ma’sum]
[QS 33:33], [QS 42 :23], [QS 3:61], [QS 3:103], [QS 9:119], [QS 6:153], [QS 4:59], [QS 4:115], [ QS 13:7], [1:6-7], [QS 4:69], [ QS 21: 27-28], [QS 5:55], [QS 20:82], [QS 2:208], [QS 102:8], [QS 5:67], [QS 5:3], [QS 70:1-2], [QS 7:172], [QS 4:54], [QS 56:79], [QS 3:7], [QS 21:73] – [QS 16:43]

CONCLUSION

Kepemimpinan [IMAMAH] memiliki dua bagian.
Bagian pertama adalah PEMIMPIN/NABI/IMAM. Kami percaya bahwa karena Allah tahu siapa yang terbaik untuk posisi tersebut, DIA menugasi pemimpin bagi umat manusia, seperti yang ditunjukkan dalam Al-Qur'an (lihat Qur'an 2:124, 21:73, 32:24, dll). PENUNJUKAN IMAM DAPAT DIKETAHUI MELALUI DEKLARASI NABI ATAU IMAM SEBELUMNYA. Agar kepemimpinan memanifestasikan dirinya dalam pemerintahan, ada Bagian kedua yang diperlukan, yaitu para PENGIKUT. Harus ada pengikut bagi pemimpin yang memimpin dan pada akhirnya dapat membentuk pemerintahannya.

Allah telah menyelesaikan karunia-Nya atas kita dengan MENETAPKAN KEPEMIMPINAN. Hal ini tinggal kita untuk melakukan dan menjalaninya, yaitu untuk mengikuti KEPEMIMPINAN NABI DAN AHLUL-BAIT. Jika kita melakukannya, pemimpin akan datang secara otomatis ke dalam kekuasaan dalam kehidupan duniawi ini. Namun, jika kita tidak mematuhi mereka, PEMIMPIN tersebut tidak memiliki kekuatan dalam penampilan dan Pergerakannya dan ia tetap sebagai pemimpin spiritual bagi beberapa pengikutnya yang setia (Imam al-Muttaqin ).

PANDANGAN SUNNI DAN PARA SEJARAHWAN UNTUK MELIHAT PERISTIWA INI


Banyaknya ulama Sunni yang menceritakan kejadian ini, baik secara rinci ataupun ringkasannya, sungguh mengagumkan! Peristiwa historis ini dikisahkan oleh 110 sahabat Nabi (sawa), 84 tabi'in, dan kemudian oleh ratusan pakar Dunia Islam, sejak abad pertama hingga abad ke-14 Hijriah (abad tujuh hingga abad dua puluh M).
Angka-angka di atas hanya sebagian/kilasan yang direkam ulama Sunni!

Di bawah ini sebagian kecil rujukan sumber-sumber periwayatan itu. Banyak di antara ulama (yang meriwayatkanya) tidak saja mengutip pernyataan Nabi (sawa) tapi juga menegaskannya sebagai SAHIH (autentik):
1. al-Hakim al-Naysaburi, al-Mustadrak `ala al-Sahihayn (Beirut), volume 3, pp. 109- 110, p. 133, p. 148, p. 533. Ia menegaskan bahwa hadis ini sahih menurut syarat Bukhari dan Muslim; al-Dhahabi membenarkan keabsahannya.
2. al-Tirmidhi, Sunan (Cairo), vol. 5, p. 633
3. Ibn Majah, Sunan, (Cairo, 1952), vol. 1, p. 45
4. Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari bi Sharh Sahih al-Bukhari, (Beirut, 1988), vol. 7, p. 61
5. Al-'Ayni, 'Umdat al-Qari Sharh Sahih al-Bukhari, vol. 8, p. 584
6. Ibn al-'Athir, Jami` al-'usul, i, 277, no. 65;
7. Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, vol. 2, p. 259 and p. 298
8. Fakhr al-Din al-Razi, Tafsir al-Kabir, (Beirut, 1981), vol. 11, p. 53
9. Ibn Kathir, Tafsir Qur'an al-'Azim, (Beirut), vol. 2, p. 14
10. Al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, p. 164
11. Ibn al-'Athir, Usd al-Ghaba fi Ma'rifat al-Sahaba, (Cairo), vol.3, p. 92
12. Ibn Hajar al-'Asqalani, Tahdhib al-Tahdhib, (Hyderabad, 1325), vol. 7, p. 339
13. Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, (Cairo, 1932), vol. 7, p. 340, vol. 5, p. 213
14. Al-Tahawi, Mushkil al-Athar, (Hyderabad, 1915), vol. 2, pp. 308-9
15. Nur al-Din al-Halabi al-Shafi'i, al-Sirah al-Halabiyya, vol. 3, p. 337
16. Al-Zurqani, Sharh al-Mawahib al-Ladunniyya, vol. 7, p. 13

MENANGGAPI PENDAPAT YANG TIDAK PERCAYA TERHADAP KEGAIBAN IMAM MAHDI

Kegaiban dan Falsafahnya
Kegaiban (ghaibah) termasuk salah satu keistimewaan imam kedua belas, Imam Mahdi afs. Hal ini sesuai dengan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ahlulbait as. Abdul ‘Azim Al-Hasani meriwayatkan sebuah hadis dari Imam Muhammad Al-Jawad as, dari ayah dan kakek-kakeknya, dari Amirul Mukminin Ali as, beliau bersabda, “Sesungguhnya Al-Qa’im (Imam Mahdi as) itu dari keturunan kami, ia akan mengalami kegaiban yang sangat panjang masanya, aku melihat orang-orang Syi’ah pada masa kegaibannya itu pergi berlalu-lalang ke sana ke mari mencarinya bagaikan hewan-hewan ternak yang berhamburan mencari tempat perlindungan, namun mereka tidak menemukannya. Ketahuilah, barang siapa di antara mereka yang berpegang teguh pada ajarannya dan hatinya tidak menjadi keras akibat panjangnya kegaiban Imamnya itu, kelak ia akan bersamaku dalam satu derajat pada Hari Kiamat.”
Kemudian beliau melanjutkan, “Sesungguhnya Al-Qa’im itu dari keturunan kami, apabila ia telah bangkit (muncul), ia tidak akan mengadakan baiat dan kompromi kepada seorang penguasa pun. Oleh karena itulah kelahirannya tersembunyi dan sosoknya pun dalam kegaiban." [ Muntakhab Al-Atsar, hal. 251.]
Diriwayatkan dari Imam Ali Zainal Abidin as, dari ayahnya, dari kakeknya Ali bin Abi Thalib as, bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya Al-Qa’im itu dari keturunan kami, ia akan mengalami dua kali kegaiban; kegaiban yang satu lebih panjang dari yang lainnya. Hanya orang-orang yang kokoh keyakinannya dan benar makrifatnyalah yang akan tetap berpegang teguh kepada Imamahnya." [ Muntakhab Al-Atsar, hal. 251.]
Dalam rangka membongkar falsafah dan hikmah kegaiban Imam Zaman afs, kita harus menengok dan mengkaji sejarah hidup dan sirah para imam suci as Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa mayoritas umat Islam telah membaiat Khalifah Abu Bakar setelah wafatnya Rasul saw. Kemudian, kekhalifahan jatuh ke tangan Umar, dan setelahnya ke tangan Utsman.
Pada akhir kekuasaan Khalifah Utsman, telah terjadi pemberontakan massa terhadapnya lantaran banyaknya kebusukan dan kerusakan yang timbul dari perlakuan yang tidak adil terhadap rakyatnya. Akhirnya mereka membunuh Ustman. Dan setelah itu, mereka membaiat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as.
Pada masa kekuasaan tiga khalifah, Imam Ali as yang merupakan khalifah yang sah, yang langsung diangkat oleh Rasulullah saw atas perintah Allah SWT, lebih banyak diam dalam menghadapi penyelewengan-penyelewengan mereka. Hal itu beliau lakukan demi menjaga maslahat kaum muslimin yang baru mengenal Islam. Beliau tidak banyak berbicara kecuali pada hal-hal yang telah lengkap buktinya. Pada sat yang sama, beliau sama sekali tidak lalai untuk selalu berkhidmat dan bekerja keras demi kemaslahatan Islam dan kaum muslimin.
Namun pada masa kekhilafahannya, Imam Ali as terpaksa menghabiskan seluruh masa itu di medan-medan peperangan melawan pasukan 'Aisyah, Muawiyah, dan kelompok Khawarij. Kehidupan beliau pun berakhir dengan syahadah di tangan salah seorang pengikut Khawarij.
Kemudian kita saksikan bagaimana Imam Hasan as mencapai syahadahnya setelah diracun oleh seseorang atas perintah Muawiyah. Dan setelah kematian Muawiyah, anaknya Yazid menduduki kursi kekuasaan dinasti Umayah. Yazid sama sekali tidak mengenal nilai-nilai Islam, tidak pula mengamalkannya. Karenanya, Islam terancam kehancuran pada masa kekuasaannya itu akibat dari perilakunya yang sewenang-wenang. Oleh karena itu, Imam Husein as bangkit demi menegakkan keadilan. Akhirnya, beliau meraih syahadah dalam keadaan teraniaya. Dengan cara demikian itu, beliau telah dapat menyelamatkan Islam dari ancaman kehancuran, karena hanya dengan cara itulah beliau telah berhasil membangkitkan tidur dan kelalaian umat Islam. Hanya saja, kondisi sosial masa itu belum meluangkan untuk menegakkan negara Islam yang adil.
Berangkat dari sinilah para imam suci pasca kesyahidan Imam Husein as bekerja keras untuk mengokohkan dasar-dasar akidah, menyebarkan nilai-nilai dan hukum-hukum Islam, dan mendidik jiwa umat yang mempunyai potensi untuk itu. Sesuai dengan kondisi yang dihadapi, para imam itu menggugah masyarakat secara sembunyi-sembunyi untuk memerangi penguasa-penguasa zalim. Di samping itu, mereka menanamkan benih-benih harapan akan munculnya negara Ilahi di seluruh dunia, sampai akhirnya para imam suci itu menemui kesyahidannya, satu persatu.
Dengan usaha yang begitu serius dan gigih, para imam suci as dapat menjelaskan dan menyebarkan hakikat Islam kepada umat manusia dalam tempo dua setengah abad, meski mereka banyak mengalami tantangan yang keras, rintangan yang besar, dan keletihan yang berat. Mereka jelaskan sebagian dari hakikat dan nilai-nilai Islam itu kepada umat manusia secara umum, dan sebagian lainnya hanya kepada pengikut-pengikut setia dan sahabat-sahabat pilihan mereka. Dengan cara seperti itu tersebarlah ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam dengan berbagai sisi dan dimensinya kepada umat manusia. Dan dengan cara itu pula syariat Muhammad saw dapat terjamin kelanggengannya.
Berkat perjuangan para imam suci tersebut terbentuklah kelompok-kelompok kecil di negara-negara Islam yang berani mengadakan perlawanan terhadap para penguasa tiran, dan mereka pun mampu—meskipun dalam bentuk yang terbatas—mengurangi tekanan para penguasa diktator tersebut dalam berbuat aniaya, melakukan penyimpangan-penyimpangan, dan berlaku sewenang-wenang terhadap umat Islam.
Akan tetapi, satu hal yang sangat ditakuti oleh para penguasa zalim dan membuat mereka resah ialah janji Allah akan munculnya Imam Mahdi AS yang berpotensi memusnahkan eksistensi mereka. Oleh karena itulah para penguasa tiran yang hidup semasa dengan Imam Hasan Al-Askari as senantiasa mengawasi beliau dengan sangat ketat untuk dapat membunuh setiap bayi laki-laki yang akan lahir dari keturunannya. Dan kita saksikan bagaimana beliau sendiri menemui kesyahidannya di tangan mereka pada usia yang relatif muda.
Akan tetapi, Hikmah Ilahiyah menghendaki bahwa Al-Mahdi AS telah lahir sebelum wafatnya ayah beliau itu, sebagai janji untuk menyelamatkan dan membebaskan umat manusia. Sebab itulah pada masa hidup ayahnya sampai usianya masuk 5 tahun, tidak seorang pun yang berhasil berjumpa dengannya kecuali hanya beberapa syi'ah pilihan. Dan setelah ayahnya wafat, Imam Mahdi AS menjalin hubungan dengan masyarakat melalui empat orang perantara yang masing-masing berperan sebagai wakil-wakil khusus beliau. Mereka itu adalah Utsman bin Sa'id, Muhammad bin Usman bin Sa'id, Husain bin Ruh dan Ali bin Muhammad As-Samari.
Kegaiban Imam Mahdi AS terhitung sejak kelahirannya hingga wafatnya wakil beliau yang keempat, dinamakan Kegaiban Kecil (ghaibah shugra). Dan setelah itu, mulailah Kegaiban Besar (ghaibah kubra) yang akan berlangsung terus dalam masa yang tidak diketahui, sampai suatu hari kelak umat manusia telah memiliki kesiapan yang cukup untuk menerima pemerintahan Ilahi yang berskala global dan universal. Ketika itulah Imam Mahdi AS akan muncul dengan izin dan perintah Allah SWT.
Dengan uraian singkat di atas dapat kita pahami bahwa hikmah, falsafah dan rahasia kegaiban Al-Mahdi AS adalah demi menjaga keselamatan beliau dari tangan para penguasa tiran. Hikmah dan falsafah lainnya yang telah disinggung oleh sebagian riwayat ialah untuk menempa keimanan umat manusia, dan menguji sejauh mana kesetiaan mereka hingga mampu istiqamah dan bertahan setelah hujjah itu telah sempurna atas mereka.
Dan yang perlu dipahami, bahwa terjadinya Kegaiban Besar pada Al-Mahdi as. tidak berarti umat manusia itu terhalangi sama sekali dari berkah wujudnya. Beberapa riwayat menjelaskan bahwa kegaiban beliau laksana matahari yang bersembunyi di balik awan, yang pancaran sinarnya masih bisa dimanfaatkan oleh penduduk bumi.[ Biharul Anwar, Al-Majlisi, jilid 52/ 92.]

Di samping itu, tidak sedikit orang-orang yang telah mendapat taufik berjumpa dengan Imam Al-Mahdi AS, walaupun beliau menampakkan dirinya sebagai seorang yang tampak asing. Banyak di antara mereka yang mendapatkan berkah dari beliau, seperti terpenuhinya hajat dan teratasinya kesulitan-kesulitan mereka, baik yang sifatnya duniawi atau pun ukhrawi.
Yang jelas, keyakinan pada keberadan dan hidupnya Imam Mahdi AS merupakan faktor penting dan pengaruh yang besar dalam menanamkan ketenangan hati, serta menaruh harapan di tengah-tengah umat manusia, sehingga mereka berusaha untuk memperbaiki diri mereka dan bersiap-siap menyambut kemunculannya.

Demikianlah, wasalam

SILAKAN PERTANYAAN INI UNTUK DIJAWAB :

APAKAH TUJUAN AKHIR DARI DIUTUSNYA NABI SAW? BAGAIMANA TUJUAN INI DAPAT TERWUJUD? AYAT-AYAT APA SAJA YANG MEMBERIKAN KABAR GEMBIRA IHWAL AKAN DITEGAKKANNYA PEMERINTAHAN ISLAM YANG UNIVERSAL? APAKAH MANFAAT DAN BERKAH YANG DAPAT DIAMBIL OLEH UMAT MANUSIA PADA MASA KEGAIBAN SEKARANG INI?

AGAMA DALAM ELABORASI TERHADAP KETUHANAN


AGAMA DALAM ELABORASI TERHADAP KETUHANAN

-----------------------------------------------------------

Ben Michael Tan





Segala sesuatu hal yang berkaitan dengan hubungan manusia lebih bijak dan adil ketika kita dalam sebuah perjanjian [agreement] karna akan mengacu pada titik adil dan lebih manusiawi dengan uraian beberapa SYARAT yang harus dipenuhi. Jelas dalam hal ini ATURAN menjadi dasar akan sebuah perjanjian itu dibuat.



Berbeda ketika TUHAN menawarkan sebuah AGAMA kepada manusia untuk diimaninya, Tuhan tidak pernah menawarkan SYARAT untuk mereka, tetapi Tuhan hanya menampilkan PILIHAN yang akan dipilih oleh manusia itu sendiri.



Manusia sekrang banyak yang tidak malu, Memaksa menolak prinsip bahwa “AGAMA itu tanpa syarat”, mereka ini selalu mengklaim kalo AGAMA punya syarat, begitulah kesombongan manusia dimata TUHAN untuk semesta alam. Justru itulah AGAMA banyak disalah gunakan oleh para oknum2 yang disebut MANUSIA.  


Dalam Islam, dengan jelas Posisi TUHAN adalah sebagai penolong. Jika manusia tersebut PERCAYA-YAKIN-MENGIMANI. Jika tidak Tuhan tidak akan memberikan kehendakNya.


APAKAH TUHAN MEMPUNYAI SYARAT ?



Tuhan menawarkan kepada manusia untuk sebuah pengakuan dalam islam dinamakan SAHADAT, dan disini bukan merupakan TUHAN punya SYARAT dan jangan dijadikan ini adalah sebuah PERSYARATAN, tetapi bahwasanya Allah SWT menyatakan kepada Semua semesta Alam ini. [karna hokum Allah SWT tidak sama dengan hokum manusia, dialek Allah SWT tidak akan sama dengan manusia, karena manusia makhluk yang diciptakan-Nya], agar manusia tidak menciptakan TUHANNYA sendiri.



Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia [QS 3:18]





Tetapi sebaliknya JIKA AGAMA ITU DIBUAT OLEH MANUSIA, maka AGAMA tersebut tentulah mempunyai SYARAT yang harus dipenuhi sebelum masuk kedalam AGAMA tersebut. Justru itu Allah SWT sangat senang kepada manusia yang mengunakan Akalnya engan baik, bukan berdiri pada sisi gelap dari PAHAM AGAMA [yang dilahir oleh sekelompok manusia] [QS 10:100]





"ISLAM AJARAN TANPA SYARAT, ISLAM BUTUH HANYA TUNDUK PATUH DAN ISLAM TIDAK BUTA"



ISLAM "tanpa syarat" mengeleborasikan konsep "IKHLAS dan TUNDUK PATUH" Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,[QS 2:139]
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. [QS 4:125]
Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada Allah dan tulus ikhlas agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. [QS 4:146]
Tiada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, [QS 9:91]
Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam".[QS 2:131]
dan selanjutnya, banyak dasar didalam alquran mengatakan ISLAM itu agama tanpa syarat [tunduk patuh] .....
ISLAM TIDAK BUTA meng eleborasikan Islam adalah bukan ajaran dongeng belaka dan menduga duga. Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab , kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga . Maka kecelakaan yAng besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. [QS 2:78-79]
Dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja . Mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak mengerti. [QS 2:171]
APA SAMA ORANG YANG MELIHAT DAN BUTA ??
Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak aku mengetahui yang ghaib dan tidak aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan?" [QS 6:50]





"ISLAM AJARAN TANPA SYARAT, ISLAM BUTUH HANYA TUNDUK PATUH DAN ISLAM TIDAK BUTA"



Demikian kerangka pikir pada sisi terang dalam mengeleborasikan ISLAM yang di tawarkan oleh TUHAN, akan jelas jika kita mau berpikir kepada ruang yang TIDAK mengedepankan sebuah SYARAT, karena pada hakikatnya manusia itu adalah UMAT YANG SATU.

Manusia itu adalah umat yang satu. , maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.[QS 2:213]

Jika Allah SWT punya syarat tentulah perkembangan manusia dalam zaman per zaman tidak akan berubah. Dan dari pemahaman yang keliru ini manusia banyak mengatakan bahwa ALLAH SWT itu tidak ADIL dan tidak kita pungkiri banyak manusia saat sekrang tidak mempercayai Allah SWT  sebagai pencipta alam ini. Karna manusia berupaya membuat doktrin yang menolak ISLAM AJARAN TANPA SYARAT.





 Jazak’Allah khair
Copyright © 2013 AHLULBAIT and Blogger Templates - Anime OST.