PENUNJUKAN IMAM DAPAT DIKETAHUI MELALUI DEKLARASI NABI ATAU IMAM SEBELUMNYA.
PENUNJUKAN IMAM DAPAT DIKETAHUI MELALUI
DEKLARASI NABI ATAU IMAM SEBELUMNYA.
CONFESSION [PENGAKUAN]
THE FAREWELL PILGRIMAGE [HAJI WADA]
Pada tanggal 18 dzul-hajjah, setelah menyelesaikan ibadah haji
terakhirnya (hajjatul-widaa), nabi sawa meninggalkan mekah menuju
madinah, di mana ia dan kerumunan orang mencapai tempat bernama ghadir
khum (yang dekat dengan juhfah hari ini). Itu adalah tempat di mana
orang-orang dari berbagai DAERAH harus mengucapkan selamat tinggal yang
baik untuk satu sama lain dan mengambil rute yang berbeda untuk rumah
mereka. Di tempat ini, ayat berikut diturunkan:
HAI RASUL,
SAMPAIKANLAH APA YANG DITURUNKAN KEPADAMU DARI TUHANMU. DAN JIKA TIDAK
KAMU KERJAKAN KAMU TIDAK MENYAMPAIKAN AMANAT-NYA. ALLAH MEMELIHARA KAMU
DARI MANUSIA . SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MEMBERI PETUNJUK KEPADA
ORANG-ORANG YANG KAFIR. [QS 5:67]
Rasul allah menyatakan : "
tampaknya waktu mendekati ketika aku akan dipanggil ( oleh allah ) dan
aku akan menjawab panggilan bahwa saya berangkat ke DUA HAL YANG
BERHARGA DAN JIKA ANDA MEMATUHI KEDUANYA , KALIAN TIDAK AKAN TERSESAT
SETELAH SAYA pergi . Adapun dua hal itu adalah KITAB ALLAH [ALQURAN] DAN
SUNAH PADA KETURUNANKU [AHLULBAIT] . Kedua tidak akan pernah terpisah
dari satu sama lain sampai mereka datang kepadaku didalam ( surga ). "
LALU RASULULLAH MELANJUTKAN: "APAKAH AKU TIDAK MEMILIKI HAK ATAS KAUM
BERIMAN LEBIH DARI ADA DIRI MEREKA SENDIRI " TERIAK ORANG-ORANG DAN
MENJAWAB : " YA , RASULULLAH . " KEMUDIAN NABI ( SAWA ) MENGANGKAT
TANGAN ' ALI DAN BERKATA : "BARANG SIAPA MENGANGGAP AKU SEBAGAI
PEMIMPINNYA (MAWLA), MAKA BAGINYA ALI ADALAH JUGA PEMIMPINNYA (MAWLA).
YA ALLAH, DUKUNGLAH SIAPA YANG MENDUKUNG DIA (ALI), DAN MUSUHILAH SIAPA
YANG MENJADI MUSUHNYA."
SEGERA SETELAH NABI (SAWA) SELESAI BERPIDATO, AYAT BERIKUT DARI AL QUR'AN DITURUNKAN:
..... PADA HARI INI TELAH KUSEMPURNAKAN UNTUK KAMU AGAMAMU, DAN TELAH
KU-CUKUPKAN KEPADAMU NI'MAT-KU, DAN TELAH KU-RIDHAI ISLAM ITU JADI AGAMA
BAGIMU.... [QS 5:3]

CONFESSION [PENGAKUAN]
KEPEMIMPINAN DAN BETAPA ALLAH SWT MENCINTAI AHLUL BAIT NABI
Berikut Adalah Beberapa Ayat Dari Al-Qur'an Tentang Kebenaran Pure Imams [Imam Ma’sum]
[QS 33:33], [QS 42 :23], [QS 3:61], [QS 3:103], [QS 9:119], [QS 6:153],
[QS 4:59], [QS 4:115], [ QS 13:7], [1:6-7], [QS 4:69], [ QS 21: 27-28],
[QS 5:55], [QS 20:82], [QS 2:208], [QS 102:8], [QS 5:67], [QS 5:3], [QS
70:1-2], [QS 7:172], [QS 4:54], [QS 56:79], [QS 3:7], [QS 21:73] – [QS
16:43]
CONCLUSION
Kepemimpinan [IMAMAH] memiliki dua bagian.
Bagian pertama adalah PEMIMPIN/NABI/IMAM. Kami percaya bahwa karena
Allah tahu siapa yang terbaik untuk posisi tersebut, DIA menugasi
pemimpin bagi umat manusia, seperti yang ditunjukkan dalam Al-Qur'an
(lihat Qur'an 2:124, 21:73, 32:24, dll). PENUNJUKAN IMAM DAPAT DIKETAHUI
MELALUI DEKLARASI NABI ATAU IMAM SEBELUMNYA. Agar kepemimpinan
memanifestasikan dirinya dalam pemerintahan, ada Bagian kedua yang
diperlukan, yaitu para PENGIKUT. Harus ada pengikut bagi pemimpin yang
memimpin dan pada akhirnya dapat membentuk pemerintahannya.
Allah telah menyelesaikan karunia-Nya atas kita dengan MENETAPKAN
KEPEMIMPINAN. Hal ini tinggal kita untuk melakukan dan menjalaninya,
yaitu untuk mengikuti KEPEMIMPINAN NABI DAN AHLUL-BAIT. Jika kita
melakukannya, pemimpin akan datang secara otomatis ke dalam kekuasaan
dalam kehidupan duniawi ini. Namun, jika kita tidak mematuhi mereka,
PEMIMPIN tersebut tidak memiliki kekuatan dalam penampilan dan
Pergerakannya dan ia tetap sebagai pemimpin spiritual bagi beberapa
pengikutnya yang setia (Imam al-Muttaqin ).
PANDANGAN SUNNI DAN PARA SEJARAHWAN UNTUK MELIHAT PERISTIWA INI
Banyaknya ulama Sunni yang menceritakan kejadian ini, baik secara rinci
ataupun ringkasannya, sungguh mengagumkan! Peristiwa historis ini
dikisahkan oleh 110 sahabat Nabi (sawa), 84 tabi'in, dan kemudian oleh
ratusan pakar Dunia Islam, sejak abad pertama hingga abad ke-14 Hijriah
(abad tujuh hingga abad dua puluh M).
Angka-angka di atas hanya sebagian/kilasan yang direkam ulama Sunni!
Di bawah ini sebagian kecil rujukan sumber-sumber periwayatan itu.
Banyak di antara ulama (yang meriwayatkanya) tidak saja mengutip
pernyataan Nabi (sawa) tapi juga menegaskannya sebagai SAHIH (autentik):
1. al-Hakim al-Naysaburi, al-Mustadrak `ala al-Sahihayn (Beirut),
volume 3, pp. 109- 110, p. 133, p. 148, p. 533. Ia menegaskan bahwa
hadis ini sahih menurut syarat Bukhari dan Muslim; al-Dhahabi
membenarkan keabsahannya.
2. al-Tirmidhi, Sunan (Cairo), vol. 5, p. 633
3. Ibn Majah, Sunan, (Cairo, 1952), vol. 1, p. 45
4. Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari bi Sharh Sahih al-Bukhari, (Beirut, 1988), vol. 7, p. 61
5. Al-'Ayni, 'Umdat al-Qari Sharh Sahih al-Bukhari, vol. 8, p. 584
6. Ibn al-'Athir, Jami` al-'usul, i, 277, no. 65;
7. Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, vol. 2, p. 259 and p. 298
8. Fakhr al-Din al-Razi, Tafsir al-Kabir, (Beirut, 1981), vol. 11, p. 53
9. Ibn Kathir, Tafsir Qur'an al-'Azim, (Beirut), vol. 2, p. 14
10. Al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, p. 164
11. Ibn al-'Athir, Usd al-Ghaba fi Ma'rifat al-Sahaba, (Cairo), vol.3, p. 92
12. Ibn Hajar al-'Asqalani, Tahdhib al-Tahdhib, (Hyderabad, 1325), vol. 7, p. 339
13. Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, (Cairo, 1932), vol. 7, p. 340, vol. 5, p. 213
14. Al-Tahawi, Mushkil al-Athar, (Hyderabad, 1915), vol. 2, pp. 308-9
15. Nur al-Din al-Halabi al-Shafi'i, al-Sirah al-Halabiyya, vol. 3, p. 337
16. Al-Zurqani, Sharh al-Mawahib al-Ladunniyya, vol. 7, p. 13
MENANGGAPI PENDAPAT YANG TIDAK PERCAYA TERHADAP KEGAIBAN IMAM MAHDI
Kegaiban dan Falsafahnya
Kegaiban (ghaibah) termasuk salah satu keistimewaan imam kedua belas,
Imam Mahdi afs. Hal ini sesuai dengan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh
Ahlulbait as. Abdul ‘Azim Al-Hasani meriwayatkan sebuah hadis dari Imam
Muhammad Al-Jawad as, dari ayah dan kakek-kakeknya, dari Amirul
Mukminin Ali as, beliau bersabda, “Sesungguhnya Al-Qa’im (Imam Mahdi
as) itu dari keturunan kami, ia akan mengalami kegaiban yang sangat
panjang masanya, aku melihat orang-orang Syi’ah pada masa kegaibannya
itu pergi berlalu-lalang ke sana ke mari mencarinya bagaikan hewan-hewan
ternak yang berhamburan mencari tempat perlindungan, namun mereka tidak
menemukannya. Ketahuilah, barang siapa di antara mereka yang berpegang
teguh pada ajarannya dan hatinya tidak menjadi keras akibat panjangnya
kegaiban Imamnya itu, kelak ia akan bersamaku dalam satu derajat pada
Hari Kiamat.”
Kemudian beliau melanjutkan, “Sesungguhnya Al-Qa’im
itu dari keturunan kami, apabila ia telah bangkit (muncul), ia tidak
akan mengadakan baiat dan kompromi kepada seorang penguasa pun. Oleh
karena itulah kelahirannya tersembunyi dan sosoknya pun dalam kegaiban."
[ Muntakhab Al-Atsar, hal. 251.]
Diriwayatkan dari Imam Ali Zainal
Abidin as, dari ayahnya, dari kakeknya Ali bin Abi Thalib as, bahwa
beliau bersabda, “Sesungguhnya Al-Qa’im itu dari keturunan kami, ia akan
mengalami dua kali kegaiban; kegaiban yang satu lebih panjang dari yang
lainnya. Hanya orang-orang yang kokoh keyakinannya dan benar
makrifatnyalah yang akan tetap berpegang teguh kepada Imamahnya." [
Muntakhab Al-Atsar, hal. 251.]
Dalam rangka membongkar falsafah dan
hikmah kegaiban Imam Zaman afs, kita harus menengok dan mengkaji sejarah
hidup dan sirah para imam suci as Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa
mayoritas umat Islam telah membaiat Khalifah Abu Bakar setelah wafatnya
Rasul saw. Kemudian, kekhalifahan jatuh ke tangan Umar, dan setelahnya
ke tangan Utsman.
Pada akhir kekuasaan Khalifah Utsman, telah
terjadi pemberontakan massa terhadapnya lantaran banyaknya kebusukan dan
kerusakan yang timbul dari perlakuan yang tidak adil terhadap
rakyatnya. Akhirnya mereka membunuh Ustman. Dan setelah itu, mereka
membaiat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as.
Pada masa kekuasaan
tiga khalifah, Imam Ali as yang merupakan khalifah yang sah, yang
langsung diangkat oleh Rasulullah saw atas perintah Allah SWT, lebih
banyak diam dalam menghadapi penyelewengan-penyelewengan mereka. Hal itu
beliau lakukan demi menjaga maslahat kaum muslimin yang baru mengenal
Islam. Beliau tidak banyak berbicara kecuali pada hal-hal yang telah
lengkap buktinya. Pada sat yang sama, beliau sama sekali tidak lalai
untuk selalu berkhidmat dan bekerja keras demi kemaslahatan Islam dan
kaum muslimin.
Namun pada masa kekhilafahannya, Imam Ali as
terpaksa menghabiskan seluruh masa itu di medan-medan peperangan melawan
pasukan 'Aisyah, Muawiyah, dan kelompok Khawarij. Kehidupan beliau pun
berakhir dengan syahadah di tangan salah seorang pengikut Khawarij.
Kemudian kita saksikan bagaimana Imam Hasan as mencapai syahadahnya
setelah diracun oleh seseorang atas perintah Muawiyah. Dan setelah
kematian Muawiyah, anaknya Yazid menduduki kursi kekuasaan dinasti
Umayah. Yazid sama sekali tidak mengenal nilai-nilai Islam, tidak pula
mengamalkannya. Karenanya, Islam terancam kehancuran pada masa
kekuasaannya itu akibat dari perilakunya yang sewenang-wenang. Oleh
karena itu, Imam Husein as bangkit demi menegakkan keadilan. Akhirnya,
beliau meraih syahadah dalam keadaan teraniaya. Dengan cara demikian
itu, beliau telah dapat menyelamatkan Islam dari ancaman kehancuran,
karena hanya dengan cara itulah beliau telah berhasil membangkitkan
tidur dan kelalaian umat Islam. Hanya saja, kondisi sosial masa itu
belum meluangkan untuk menegakkan negara Islam yang adil.
Berangkat
dari sinilah para imam suci pasca kesyahidan Imam Husein as bekerja
keras untuk mengokohkan dasar-dasar akidah, menyebarkan nilai-nilai dan
hukum-hukum Islam, dan mendidik jiwa umat yang mempunyai potensi untuk
itu. Sesuai dengan kondisi yang dihadapi, para imam itu menggugah
masyarakat secara sembunyi-sembunyi untuk memerangi penguasa-penguasa
zalim. Di samping itu, mereka menanamkan benih-benih harapan akan
munculnya negara Ilahi di seluruh dunia, sampai akhirnya para imam suci
itu menemui kesyahidannya, satu persatu.
Dengan usaha yang begitu
serius dan gigih, para imam suci as dapat menjelaskan dan menyebarkan
hakikat Islam kepada umat manusia dalam tempo dua setengah abad, meski
mereka banyak mengalami tantangan yang keras, rintangan yang besar, dan
keletihan yang berat. Mereka jelaskan sebagian dari hakikat dan
nilai-nilai Islam itu kepada umat manusia secara umum, dan sebagian
lainnya hanya kepada pengikut-pengikut setia dan sahabat-sahabat pilihan
mereka. Dengan cara seperti itu tersebarlah ajaran-ajaran dan
nilai-nilai Islam dengan berbagai sisi dan dimensinya kepada umat
manusia. Dan dengan cara itu pula syariat Muhammad saw dapat terjamin
kelanggengannya.
Berkat perjuangan para imam suci tersebut
terbentuklah kelompok-kelompok kecil di negara-negara Islam yang berani
mengadakan perlawanan terhadap para penguasa tiran, dan mereka pun
mampu—meskipun dalam bentuk yang terbatas—mengurangi tekanan para
penguasa diktator tersebut dalam berbuat aniaya, melakukan
penyimpangan-penyimpangan, dan berlaku sewenang-wenang terhadap umat
Islam.
Akan tetapi, satu hal yang sangat ditakuti oleh para penguasa
zalim dan membuat mereka resah ialah janji Allah akan munculnya Imam
Mahdi AS yang berpotensi memusnahkan eksistensi mereka. Oleh karena
itulah para penguasa tiran yang hidup semasa dengan Imam Hasan Al-Askari
as senantiasa mengawasi beliau dengan sangat ketat untuk dapat membunuh
setiap bayi laki-laki yang akan lahir dari keturunannya. Dan kita
saksikan bagaimana beliau sendiri menemui kesyahidannya di tangan mereka
pada usia yang relatif muda.
Akan tetapi, Hikmah Ilahiyah
menghendaki bahwa Al-Mahdi AS telah lahir sebelum wafatnya ayah beliau
itu, sebagai janji untuk menyelamatkan dan membebaskan umat manusia.
Sebab itulah pada masa hidup ayahnya sampai usianya masuk 5 tahun, tidak
seorang pun yang berhasil berjumpa dengannya kecuali hanya beberapa
syi'ah pilihan. Dan setelah ayahnya wafat, Imam Mahdi AS menjalin
hubungan dengan masyarakat melalui empat orang perantara yang
masing-masing berperan sebagai wakil-wakil khusus beliau. Mereka itu
adalah Utsman bin Sa'id, Muhammad bin Usman bin Sa'id, Husain bin Ruh
dan Ali bin Muhammad As-Samari.
Kegaiban Imam Mahdi AS terhitung
sejak kelahirannya hingga wafatnya wakil beliau yang keempat, dinamakan
Kegaiban Kecil (ghaibah shugra). Dan setelah itu, mulailah Kegaiban
Besar (ghaibah kubra) yang akan berlangsung terus dalam masa yang tidak
diketahui, sampai suatu hari kelak umat manusia telah memiliki kesiapan
yang cukup untuk menerima pemerintahan Ilahi yang berskala global dan
universal. Ketika itulah Imam Mahdi AS akan muncul dengan izin dan
perintah Allah SWT.
Dengan uraian singkat di atas dapat kita pahami
bahwa hikmah, falsafah dan rahasia kegaiban Al-Mahdi AS adalah demi
menjaga keselamatan beliau dari tangan para penguasa tiran. Hikmah dan
falsafah lainnya yang telah disinggung oleh sebagian riwayat ialah untuk
menempa keimanan umat manusia, dan menguji sejauh mana kesetiaan mereka
hingga mampu istiqamah dan bertahan setelah hujjah itu telah sempurna
atas mereka.
Dan yang perlu dipahami, bahwa terjadinya Kegaiban
Besar pada Al-Mahdi as. tidak berarti umat manusia itu terhalangi sama
sekali dari berkah wujudnya. Beberapa riwayat menjelaskan bahwa kegaiban
beliau laksana matahari yang bersembunyi di balik awan, yang pancaran
sinarnya masih bisa dimanfaatkan oleh penduduk bumi.[ Biharul Anwar,
Al-Majlisi, jilid 52/ 92.]
Di samping itu, tidak sedikit
orang-orang yang telah mendapat taufik berjumpa dengan Imam Al-Mahdi AS,
walaupun beliau menampakkan dirinya sebagai seorang yang tampak asing.
Banyak di antara mereka yang mendapatkan berkah dari beliau, seperti
terpenuhinya hajat dan teratasinya kesulitan-kesulitan mereka, baik yang
sifatnya duniawi atau pun ukhrawi.
Yang jelas, keyakinan pada
keberadan dan hidupnya Imam Mahdi AS merupakan faktor penting dan
pengaruh yang besar dalam menanamkan ketenangan hati, serta menaruh
harapan di tengah-tengah umat manusia, sehingga mereka berusaha untuk
memperbaiki diri mereka dan bersiap-siap menyambut kemunculannya.
Demikianlah, wasalam
SILAKAN PERTANYAAN INI UNTUK DIJAWAB :
APAKAH TUJUAN AKHIR DARI DIUTUSNYA NABI SAW? BAGAIMANA TUJUAN INI DAPAT
TERWUJUD? AYAT-AYAT APA SAJA YANG MEMBERIKAN KABAR GEMBIRA IHWAL AKAN
DITEGAKKANNYA PEMERINTAHAN ISLAM YANG UNIVERSAL? APAKAH MANFAAT DAN
BERKAH YANG DAPAT DIAMBIL OLEH UMAT MANUSIA PADA MASA KEGAIBAN SEKARANG
INI?
0 komentar: