TAHUN BARU ISLAM, HANUKKAH DAN NATAL MELANTUNKAN PESAN YANG SAMA

Tahun baru Islam, Hanukkah dan Natal melantunkan pesan yang sama
oleh Achmad Munjid

Cetak
Email
Awal bulan lalu, peringatan tahun baru Islam 1435 H terjadi secara beriringan dengan Natal dan Hanukkah. Dalam dunia yang masih diwarnai konflik agama ini, keserentakan peringatan tiga hari raya tersebut perlu dibaca sebagai isyarat positif, bahkan peluang, terutama bagi umat Yahudi, Kristen dan Islam untuk saling merengkuh.

Mengapa ‘Umar ibn al-Khattab (w. 644 M), khalifah kedua yang menetapkan sistem penanggalan Islam itu, memilih peristiwa hijrah Nabi Muhammad sebagai hari pertama kalender Islam? Jika ditelaah secara cermat, itu karena peristiwa ini melambangkan prinsip kemerdekaan iman. Bagi umat Kristiani dan Yahudi, pesan ini juga dimiliki oleh Natal dan Hanukkah.

Secara etimologis, hijrah berarti migrasi atau perpindahan, baik fisik maupun mental. Nabi Muhammad dan para pengikutnya bermigrasi dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 M saat tekanan dan pelecehan penguasa suku Quraisy kian tak tertanggungkan. Hijrah Nabi dan pengikutnya, dengan demikian, bukan semata perpindahan fisik-geografis, tapi juga peralihan suasana psikologis yang membawa perubahan politik, revolusi ideologi dan pembaharuan spiritual.

Dengan kata lain, kepergian fisik mereka dari Mekah ke Madinah adalah upaya menemukan ruang hidup baru yang lebih aman bagi keyakinan mereka.

Seperti para pendiri bangsa Amerika yang lari dari Eropa, sebab utama hijrah ini adalah untuk meraih hak mereka atas kebebasan beragama.

Dalam dunia tribalistik Arab masa itu, migrasi demikian adalah perjalanan one way ticket yang beresiko amat besar. Setiap individu terikat pada klannya secara hampir mutlak. Tempat kelahiran dan etnik secara penuh mendefinisikan identitas, bahkan eksistensi seseorang. Karena itu, meninggalkan kampung halaman dan suku berarti menanggalkan identitas, bahkan meninggalkan dunia yang menopang keberadaan dirinya.

Hijrah dan Tahun baru Islam, karenanya, bisa dilihat sebagai terobosan sosial, politik dan spiritual. Ia merupakan awal pembentukan tata-sosial baru yang ditopang bukan oleh ikatan darah, suku dan budaya, tapi oleh komitmen tauhid, kesederajatan sosial dan kontrak politik di antara para pendukungnya, seperti tertuang dalam Piagam Madinah.

Semangat ini pulalah yang ada di balik peringatan Hanukkah dan Natal.

Hanukkah adalah peringatan atas kemenangan revolusi kaum Yahudi melawan bangsa Yunani setelah Raja Antiokus IV dengan sewenang-wenang merampas Kuil Sulaiman dan merubahnya menjadi altar penyembahan Dewa Zeus. Pada tahun 164 SM, Yudah the Maccabee memimpin pemberontakan dan akhirnya berhasil merebut Kuil Sulaiman dan menggunakannya kembali sebagai tempat pemujaan Yahweh. Lebih dari sekedar perlawanan politik, bagi kaum Yahudi, pemberontakan ini adalah upaya mereka mempertahan kemerdekaan mereka untuk melaksanakan ajaran agamanya.

Pada hari Natal, umat Kristiani menyucikan kelahiran Yesus, Kristus Sang Juru Selamat, yang kemudian disalib karena keyakinannya. Bagi banyak orang, Natal adalah kesempatan untuk mengingat awal kelahiran Yesus yang sederhana serta merayakan kehidupan dan ajaran-ajaran beliau.

Ketiga monumen waktu ini memang menyimpan kisah getir tentang penindasan.

Tapi, di atas segalanya, ketiganya juga bercerita tentang perjuangan menegakkan kemerdekaan beragama.

Karena itu, memperingati Natal, Hanukkah dan Tahun Baru Islam tanpa mengumandangkan hakikinya kemerdekaan iman adalah ritual hampa yang kerontang makna asalnya. Ia hanya menjadi rutinitas, ritual yang membedakan kita dari yang lain, membangun tembok pemisah dengan mereka dan bukannya membukakan pintu untuk saling merengkuh dan berbagi.

Sementara kenangan terhadap musim hari raya ini mulai berakhir, ada baiknya bila kita melihat dunia kita yang terpecah ini, dan mengingat bahwa kita semua ingin dihormati dan bukan dibenci karena agama kita. Mari kita lihat perbedaan antaragama bukan sebagai sumber perpecahan, tetapi sebagi sumber penyatu sehingga setiap orang bisa saling belajar, mengerti, menghormati, dan bersama-sama menciptakan perdamaian.

Semoga datang suatu hari ketika kita memperingati perayaan agama kita bersama-sama, dengan kesadaran dan penghargaan penuh akan samanya perjuangan dan nasib kita. Kita bisa memulainya dengan mengikuti perayaan hari raya agama lain untuk menunjukkan solidaritas kemanusiaan kita.

###

* Achmad Munjid adalah presiden Masyarakat Nahdhatul Ulama di Amerika Utara dan peneliti pada Dialogue Institute, Temple University di Philadelphia. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

0 komentar:

Copyright © 2013 AHLULBAIT and Blogger Templates - Anime OST.